Skalanews
– Stratfor lembaga kajian intelijen berbasis di AS mengatakan sebagian besar klaim oposisi Suriah tentang keseriusan krisis di negara itu tidak benar.
Stratfor menyebut pengunjuk rasa rasa melebih-lebihkan,
untuk memenangkan dukungan dari kekuatan
dunia internasional AS.
Dr. Paul
Craig Roberts, mantan pejabat kepercayaan Reagan, kepada Russian Today mengatakan dia percaya Washington tak serta
merta mendukung pihak oposisi.
“Amerika tidak akan berani mempersenjatai oposisi seperti yang mereka
lakukan di Libya dengan mengatasnamakan protes Arab Spring,” kata Roberts. “Ini bukan protes spontan dan dengan
negara otorites seperti Suriah, anda tak akan menemukan oposisi yang dengan mudah mampu memasok senjata.”
Roberts melanjutkan, tidak masuk akal bagi orang-orang
di Suriah untuk memberikan kesempatan negara
mereka dimusnahkan seperti Libya, Irak, atau Afghanistan.
“Masalahnya Rusia akan memiliki pangkalan angkatan laut di
Suriah, dan AS tentu saja tidak menginginkan kehadiran angkatan laut Rusia di
Laut. Dan seperti di Libya,
masalahnya adalah investasi minyak China. Jika Suriah
telah selesai, Iran adalah target besar selanjutnya,” kata Roberts.
Duri dalam daging
Akhir November lalu, Rusia mengirim sebuah gugus tugas dari Armada
Utara di Severomorsk untuk memulai misi pelatihan di Atlantik dan Mediterania. Gugus
tugas itu dipimpin oleh kapal induk Laksamana Kuznetsov dan kapal perusak kelas Udaloy dan kelas Laksamana
Chabanenko.
Selain itu gugus tugas tersebut akan menyertakan kapal tunda
Nikolai Chiker, dan tiga buah kapal tanker. Menurut Angkatan Laut Rusia misi tersebut
merupakan bagian dari rencana tahunan pelatihan Angkatan Laut Rusia.
Gugus tugas akan diperkuat dengan kapal frigat Yaroslav Mudry
dari kelas Neustrashimy yang merupakan
bagian dari Armada Baltik. Kepala Staf Umum AB Rusia, Jenderal Nikolai Makarov,
mengatakan misi tersebut telah dijadwalkan dan tidak ada kaitannya dengan
krisis politik di Suriah.
Rusia memiliki pangkalan angkatan laut di pelabuhan Suriah
Tartus yang dioperasikan di bawah perjanjian tahun 1971 antara Suriah dan Uni
Soviet.
Namun demikian, dengan tekanan internasional yang meningkat terhadap
Suriah sementara Armada ke-6 AS berpatroli di daerah itu, kehadiran kapal-kapal
Rusia bagaimanapun akan mengerem ambisi AS untuk melakukan operasi militer ke Suriah.(nug)
News Hit Counter : 883