Berpuluh tahun lalu itu terjadi. Sukarno, pada usia 26 tahun
membangun PNI dan melawan penindasan. Hatta, sejak 18 tahun belajar dan aktif
dalam politik kemerdekaan dan meraih gelar doktor pada usia 32 tahun.
Tan Malaka, pada usia 26 tahun sudah memimpin perlawanan
terhadap kapitalisme di Eropa. Lalu dia mati setelah menjadi buronan di
lebih dari 17 negara di Asia dan Eropa, karena melawan penindasan dan
penjajahan.
Soe Hok Gie, mati muda di lereng Semeru, pendaki gunung –
jurnalis di 4 media massa pada masanya – mahasiswa cemerlang -dan aktivis yang
manusiawi mulai umur 18 sampai akhir hayatnya : 26 tahun.
Esok hari kawan, akan ada banyak upacara mengenang deklarasi
kemerdekaan berpuluh tahun silam.
Esok hari petinggi negeri memimpin upacara dan orang orang muda
menaikan bendera. Tahun kemarin, tahun ini dan mungkin bertahun lagi. Orang-orang
tua memimpin upacara dan orang muda hanya menaikan bendera.
Pada hari yang berbeda. Orang-orang tua memimpin seenaknya sendiri,
mengatur anak-anak muda. Anak-anak muda harus patuh dan seringkali setengah
atau sepenuh hati menjilat agar bisa maju diantara orang-orang tua.
Anak-anak muda yang tak patuh akan terasing dan menjadi orang
asing dalam ide yang mengasingkan dirinya dari dunia gemerlap saat ini.
Orang-orang tua korupsi, dan mengatakan pada anak muda, “ini
yang harus terjadi dan tak mungkin dibendung.”
Orang orang muda yang patuh dan tak ingin hidup sulit akan setuju
dan melakukannya lebih kuat. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Dan
itu berlari kemana-mana.
Orang-orang tua membangun peraturan dan menabraknya sendiri,
lalu bilang pada orang muda, “kita harus bijaksana, harus pandai membawa diri
agar tidak hidup konyol.”
Orang-orang muda yang patuh akan setuju dan menjadi shaleh dalam
keseharian sambil menimbun muslihat meliuk dari jeratan aturan.
Orang-orang tua menimbun lemak dan harta, lalu berkata pada
anak-anak muda, “Kita tidak mungkin berjuang dengan perut kosong, perjuangan
tanpa amunisi adalah perjuangan konyol.”
Lalu sampai mati mereka tetap menimbun harta dan lupa untuk
berjuang. Dan anak-anak muda patuh, dan memandang aneh pada “pemberontak yang
melupakan amunisinya”.
Sambil berkata, “sok progresif tapi konyol dan bodoh, sok suci
tapi sebenarnya tak punya kerjaan, nanti juga kalau berkuasa akan sama saja.”
Orang-orang tua bangga pada kewenangan, titel, jabatan dan
dirinya. Merasa pandai dan selalu benar. Orang-orang muda merasa takut (tapi
enggan disebut pengecut) pada masa depannya, tapi berani melawan harga dirinya,
cita-citanya, mimpinya, idealismenya, bahkan nilai-nilainya, berani melawan
semuanya, kecuali melawan keadaan.
Itu terjadi. Di negeri ini, saat ini, kemarin dan entah sampai
kapan. Di kampusku, di tempat kerjaku, di tempat nongkrongku, di mesjidku,
di tempat arisan, dimana lagi?
Di kampungku, di kabupatenku, di propinsiku, di negaraku, di
sukuku dimana lagi? Diriku, dihatiku, dipikiranku, di gerakku dan dimana lagi?
1000 triliun hutang kita pada negeri seberang, lalu kita gadaikan
dengan bumi kaya raya yang kita punya.
Dua ratus juta orang lebih hidup di negeri ini, tapi separuhnya
hanya bisa makan untuk hari ini dan sehari setelahnya, karena tak lagi pasti
hari depannya.
Pelan tapi pasti kita mengubur negeri ini. Itu sebabnya esok
hari, seperti tahun kemarin dan mungkin tahun yang akan datang. Kita menaikan
bendera berupacara dengan semarak dan penuh haru.
Untuk mengenang deklarasi kemerdekaan kita mengenang bahwa kita
pernah merdeka. Mengenang bahwa dahulu orang-orang muda pernah memiliki mimpi. Melihat
negeri ini menjadi berdaulat, adil dan makmur.
Merubahnya dengan kepal tangannya dan otaknya, dengan keringat,
air mata dan darahnya. Mari mengenang : Kita pernah
merdeka.
Dani Armanto petani tinggal di Purwokerto
News Hit Counter : 1708