'Presiden SBY Jangan Paranoid dan Cari Kambing Hitam'

Minggu , 24 Mar 2013 22:44 WIB
  
  
A+ | Reset | A-

Skalanews - Isu kudeta terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wapres Boediono kembali mencuat seiring akan adanya aksi massa besar-besar pada Senin (25/3) besok. 

Wacana yang untuk kali kedua dilontarkan Presiden tersebut, dinilai sebagai sikap paranoid. Karena itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono disarankan untuk tidak mencari kambing hitam terkait isu kudeta.

"Sebaiknya Presiden fokus saja mengurus negara daripada terus memantik kegaduhan politik dengan melemparkan isu kudeta terhadap pemerintahan," imbuh Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Hendardi, di Jakarta, Minggu (24/3).

Dalam keterangan tertulisnya itu, ia menilai kegaduhan politik yang diakibatkan isu-isu yang dilemparkan pemerintah bisa berimplikasi pada melemahnya kohesi sosial, destabilitas politik baru dan guncangan ekonomi sosial.

Sikap paranoid terhadap isu-isu kudeta, menurut dia, tidak akan dapat menyelesaikan masalah. Daripada melemparkan isu kudeta yang bisa menciptakan kegaduhan politik, lebih baik Presiden dan jajarannya fokus pada substansi persoalan.

"Beberapa kali isu kudeta yang dilemparkan Presiden dan penyikapan oleh otoritas negara semakin menunjukkan paradoks dan menyimpang dari nalar umum tentang situasi politik nasional mutakhir," beber Hendardi.

Kegaduhan politik dan potensi instabilitas yang terjadi, ia mengatakan, sesungguhnya dipicu Presiden sendiri yang sudah tidak lagi fokus mengurus negara. Alih-alih menyelesaikan persoalan mendasar kenegaraan dan kebangsaan, kata dia, Presiden lebih sering mencari kambing hitam tentang musuh negara.

"Cara tersebut lebih mudah memupuk simpati dan dukungan publik atas pemerintahan yang semakin rapuh dan tidak solid, dibanding mengatasi substansi persoalan," kata Hendardi.

Sebelumnya, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparringa mengatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak terganggu sama sekali dengan adanya rencana kudeta yang akan dilakukan pada Senin (25/3), sehingga akan tetap bekerja.

"Pada Senin 25 Maret, Presiden memiliki agenda yang padat dan beliau akan tetap bekerja seperti biasa," kata Daniel, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu.

Dia menegaskan bahwa Presiden tidak merasa terganggu atau terpengaruh dengan isu atau rencana kudeta yang beredar akhir-akhir ini, dan yang diduga bertujuan untuk melengserkan dirinya dari pemerintahan. [mad] 

Komentar facebook