Beda, Dampak Kenaikan BBM Jangka Panjang dengan Jangka Pendek

Positif secara jangka panjang, negatif secara jangka pendek.
Senin , 06 Mei 2013 18:16 WIB
  
  
A+ | Reset | A-

Skalanews - Gubernur Bank Indonesia (BI), Darmin Nasution, meminta membedakan dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi secara jangka panjang dengan pendek, karena imbasnya akan berbeda.

"Membicarakan kenaikan harga BBM tolong dibedakan dampaknya jangka pendek 2-3 bulan dengan dampak jangka panjang 1 tahun atau lebih. Kalau 1 tahun atau lebih itu bagus dampaknya, tapi kalau 2-3 bulan tidak terhindarkan dampak negatifnya," kata Darmin, seusai melakukan penandatanganan nota kesepahaman Pemanfaatan Nomor Induk Kependudukan, Data Kependudukan dan KTP Elektronik dalam Layanan Lingkup Bank Indonesia dengan Kementerian Dalam Negeri, di Jakarta, Senin (6/5).

Jika dampak kenaikan harga BBM dilihat secara jangka pendek, maka dampaknya akan negatif di mana harga-harga bahan pokok akan naik dan kegiatan perekonomian akan terpengaruh.

Namun secara jangka panjang kenaikan harga BBM bersubsidi akan membuat neraca pembayaran membaik, sehingga tekanan nilai tukar terhadap persepsi dari pasar akan berkurang atau menjadi baik.

Bank sentral telah memiliki kebijakan yang disiapkan untuk merespon kenaikan harga BBM. Namun ada juga kebijakan yang perumusannya masih perlu melihat tingkat inflasi akibat kenaikan harga BBM bersubsidi dan respon dari masyarakat.

"Artinya bagaimana besarnya inflasi 2-3 bulan ke depan pasti akan mempengaruhi, bagaimana BI membuat kebijakan. Tentu kenaikan BBM akan menaikkan inflasi, dan seberapa besarannya kita punya perkiraan, tapi kan bisa saja perkiraan itu tidak pas," katanya.

Meskipun berdampak negatif secara jangka pendek, namun secara umum kenaikan harga BBM bukan sesuatu yang mengkhawatirkan dalam jangka waktu 2-3 bulan ke depan.

Seandainya ada penurunan daya beli masyarakat dalam 2-3 bulan pascakenaikan harga BBM bersubsidi, maka hal itu hanya merupakan dinamika ekonomi saja.

"Masalah ekonomi begitu dinamikanya. Dua-tiga bulan berpengaruh, habis itu ada penyesuaian," kata Darmin.

Pemerintah dalam APBN 2013 memberikan pagu belanja subsidi energi sebesar Rp274,7 triliun dengan perincian subsidi listrik Rp80,9 triliun dan subsidi BBM Rp193,8 triliun dengan volume sebesar 46 juta kilo liter.

Kuota volume BBM bersubsidi diprediksi dapat mencapai 53 juta kilo liter dan mengganggu fiskal, apabila tidak ada kebijakan yang memadai untuk mengendalikan konsumsi BBM, yang jumlahnya semakin meningkat setiap tahun. (Ant/DS)

Komentar facebook