Martin Hutabarat Tak Tahu Sareh Wiyono Caleg Gerindra

"Saya enggak tahu kalau dia Caleg, nanti saya cek dulu ke yang bersangkutan. Nanti kau tanyakan saja ke Muzani (Sekjen Partai Gerindra), dia yang mengurus Caleg,"
Selasa , 09 Jul 2013 18:44 WIB
  
  
A+ | Reset | A-

Skalanews - Anggota Dewan Pembina (Wanbin) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Martin Hutabarat mengaku tidak tahu kalau mantan Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Barat, Sareh Wiyono menjadi calon anggota legislatif (Caleg) dari partainya.

Padahal di dalam situs KPU, nama Sareh tercantum menjadi salah satu daftar Caleg sementara (DCS) dari Partai Gerindra, pada daerah pemilihan (Dapil) Jawa Timur VIII dengan nomor urut 1.

Sareh pada hari Senin (8/7) kemarin, diperiksa oleh pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sebagai saksi untuk tersangka hakim Setyabudi Tedjocahyono, terkait kasus dugaan suap penanganan perkara korupsi Bansos Pemkot Bandung senilai Rp66,6 miliar.

Karena mengaku tidak tahu, jika Sareh merupakan salah satu Caleg dari partainya, Martin pun enggan memberikan jawaban ketika ditanyai apakah Partai Gerindra akan mengevaluasi pencalegan Sareh tersebut, lantaran diperiksa oleh KPK.

"Saya enggak tahu kalau dia Caleg, nanti saya cek dulu ke yang bersangkutan. Nanti kau tanyakan saja ke Muzani (Ahmad, Sekjen Partai Gerindra), dia yang mengurus Caleg," kata Martin saat ditemui wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (9/7).

Namun demikian, Martin menyatakan Sareh belum tentu bersalah meski KPK telah memeriksanya. "Kan kalau orang yang diminta keterangan itu tidak atau belum tentu tersangka," kata pria yang menjabat sebagai anggota Komisi III DPR ini.

Sebelumnya, penyidik KPK melakukan pemeriksaan terhadap Sareh, sebagai saksi untuk tersangka hakim Setyabudi Tedjocahyono. Hal ini dikatakan Juru Bicara KPK, Johan Budi Sapto Prabowo bahwa pemeriksaan Sareh sebagai saksi tersebut memang tidak ada di dalam daftar jadwal pemeriksaan KPK kemarin, karena masih bersifat pemeriksaan lanjutan.

Seperti diketahui, dalam rekonstruksi perkara Bansos Bandung pada hari pertama, dilakukan di ruang kerja Sareh Wiyono yang saat itu menjabat ketua Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Barat (Jabar). Sareh diduga menerima uang Rp250 juta dari mantan Wakil Ketua PN Bandung, Setyabudi.

Uang sebesar itu ditujukan sebagai uang pelicin, agar pihak Pengadilan Tinggi Jabar mendukung vonis sejumlah tersangka kasus Bansos Pemkot Bandung.
Pertemuan antara Setyabudi dan Sareh sebelumnya, dilakukan ruangan PT Jabar dan diberlanjut di rumah Sareh. Dalam pertemuan itu Sareh bersedia membantu Setyabudi jika disediakan uang Rp1,5 miliar.

Namun begitu, Setyabudi melalui pengacaranya, Joko Sriwidodo menilai penerimaan sejumlah uang oleh Sareh Wiyono belum akurat kebenarannya dan perlu didukung adanya saksi. Dia pun mengingatkan soal asas praduga tidak bersalah.

Apalagi, lanjutnya, dalam rekonstruksi yang dilakukan oleh KPK terkait kasus suap itu, terdapat sejumlah adegan yang tidak sesuai dan lemahnya saksi seperti dalam tudingan terhadap Sareh itu, yang harus diuji kebenarannya. Sareh sendiri, membantah menerima uang tersebut. (Risman Afrianda/bus)

Komentar facebook