Dodol Betawi Condet Diburu Pembeli Jelang Lebaran

"Kalau buat orang Betawi sih wajib, kurang afdol lebaran tanpa dodol"
Selasa , 06 Ags 2013 05:11 WIB
  
  
A+ | Reset | A-

Skalanews - Ada satu makanan khas Betawi yang selalu hadir di tiap perayaan Hari Raya Lebaran Idul Fitri, yakni dodol.

Panganan legit yang terbuat dari kelapa, ketan, dan gula merah itu biasanya disuguhkan kepada tamu yang berkunjung saat tradisi saling bermaaf-maafan ketika lebaran.

Bahkan saking 'pentingnya' kehadiran dodol untuk disuguhkan ke tamu, lebaran bagi bagi warga Betawi seperti kurang afdol tanpa kehadiran panganan hitam manis nan legit itu.

Hal itu diakui Dedi, seorang warga Betawi asli dari daerah Condet, Jakarta Timur.

Skalanews menemuinya saat sedang mengantre membeli dodol Betawi di Toko Dodol 'Gurih Rasa' di Jalan Batu Ampar I, Condet, Jakarta Timur.

Tak tanggung-tanggung, saat tiba gilirannya membeli, Dedi langsung memborong 9 dodol yang dikemas menyerupai lontong yang dibanderol perbijinya seharga 20 ribu rupiah.

"Kalau buat Betawi sih wajib, kurang afdol lebaran tanpa dodol," ujarnya dengan wajah sumringah sambil menenteng dodol hasil 'perburuannya'.

Tak terlalu berlebihan tampaknya bila Dedi disebut 'memburu' dodol. Pasalnya di daerah Condet, toko yang menjual dodol asli Betawi memang sudah langka. Cuma ada 3 toko saja yang jual, dan salah satunya Toko Gurih Rasa.

"Di toko lain sudah habis. Untung di toko sini masih ada," ujar Dedi, Senin (5/8).

Selain Dedi, 'pemburu' dodol Betawi lainnya yakni Yuyun. Dia juga mengaku warga Betawi asal Condet. Diakuinya, membeli dodol di toko Gurih rasa memang rutin dia lakukan menjelang lebaran. Soal selera menjadi salah satu alasannya berlangganan dodol di sana.

"Dodol buatan sini pas rasanya. Lagipula lebih awet dan rasanya ngga berubah kalau sudah lama. Memang adi agak keras, tapi tetap enak kalau dimakan," ujarnya.

Ramainya pembeli dodol menjelang Hari Raya Lebaran diakui oleh Faizin, si penjual dodol sekaligus pembuatnya. Kata dia, peningkatan omzet mulai terjadi sejak awal puasa.

Setiap harinya, kata dia, bisa sampai 200 buah dodol ludes terjual perharinya. Sedangkan menjelang lebaran, jumlah dodol yang terjual makin bertambah hingga 300 buah dalam sehari.

Karena permintaan meningkat, pembuat dodol pun menambah karyawannya khusus di bulan Ramadhan. Kalau sehari-harinya dodol hanya dibuat oleh 1 atau 2 orang, kata Faizin, selama bulan puasa karyawan ditambah hingga 24 orang.

"Pembuatannya sendiri juga membutuhkan waktu pengolahan 5 sampai 6 jam."

Dodol yang dibuat tokonya, kata Faizin, tersedia dalam 3 rasa. Yakni rasa orisinil yang dipatok seharga Rp 65ribu perbesek, atay rasa duren dan ketan hitam yang dibanderol seharga Rp75ribu. (mvw)
Komentar facebook