Kamis, 19 Oktober 2017 | 14:06 WIB
Saham Telkom dengan volume transaksi mencapai 33,41 juta unit saham dengan nilai Rp250,66 miliar dengan kurs naik Rp250 menjadi Rp7.500.
IHSG Dekati Empat Ribu, Dipicu Saham Telkom dan Bank
Senin, 5 September 2011 | 15:07 WIB
-
Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) akhirnya menguat dengan mendekati angka 4.000 poin. Hal tersebut dipicu oleh transaksi yang cukup besar dari saham industri telekomunikasi dan perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (5/9).

Demikian disampaikan analis PT First Asia Capital, Ifan Kurniawan di Jakarta Senin (5/9). Tercatat, saham Telkom dengan volume transaksi mencapai 33,41 juta unit saham dengan nilai Rp250,66 miliar dengan kurs naik Rp250 menjadi Rp7.500.

Sedangkan saham industri perbankan seperti saham Bank BRI berhasil diperjualbelikan sebanyak 58,07 juta unit senilai Rp391,43 miliar pada kurs akhir Rp6.750 atau naik Rp200 dan saham Bank Mandiri terjual sebanyak 35,24 juta saham senilai Rp244,54 miliar dengan kurs naik Rp100 menjadi Rp6.950.

Namun saham yang paling banyak mengalami kenaikan adalah saham Astra Internasional, yang menguat Rp1.850 menjadi Rp68.000 dengan volume sebanyak 5,82 juta unit senilai Rp394,07 miliar dan saham Gudang Garam menguat Rp950 menjadi Rp55.955.

"Kenaikan saham industri telekomunikasi dan perbankan diperkirakan akan terhenti, karena pelaku pasar melakukan aksi lepas, akibat bursa global saat ini melemah," ujarnya.

Menurut Ifan Kurniawan, kenaikan saham pada saat itu, karena pelaku hanya menyesuaikan diri terhadap pasar global yang tiga hari lalu menguat, sedangkan bursa saham Indonesia tutup karena menyambut liburan panjang.

"Apabila pelaku pasar berbalik arah dengan melepas saham-sahamnya maka indeks akan mengalami koreksi harga pada penutupan pasar Senin sore," katanya.

Meski demikian, peluang indeks untuk bisa mencapai angka 4.000 poin pada pekan ini karena arus modal asing yang masuk makin kuat. "Kami optimis indeks BEI akan dapat mencapai level 4.000 poin pada pekan ini, karena investor asing yang menempatkan dananya di pasar domestik makin besar," tuturnya.

Ia mengatakan, Indonesia masih tetap merupakan pasar potensial bagi asing, karena itu mereka akan kembali masuk ke pasar domestik bermain di pasar saham, pasar uang, obligasi pemerintah dan instrumen Bank Indonesia (BI).

"Dengan suku bunga rupiah yang tetap tinggi mencapai 6,75 persen, kenyamanan untuk berinvestasi akan mendorong investor asing terus bermain di pasar domestik," pungkas Ifan. [mad]