Selasa, 23 Mei 2017 | 12:05 WIB
Data penguat ekonomi Indonesia tidak akan melambat adalah data ekspor Indonesia yang dikeluarkan Biro Pusat Statistik (BPS) untuk Agustus 2011 yang sebesar 18,2 miliar dolar AS atau lebih tinggi ketimbang ekspor Juli 2011 yang sebesar 17,5 miliar dolar AS
Tenang, IHSG Melemah Bukan Tanda Ekonomi RI Melambat
Selasa, 4 Oktober 2011 | 14:29 WIB
Ilustrasi -
Skalanews - Satu yang harus dipahami publik bahwa penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir ini belum bisa dijadikan patokan bahwa ekonomi Indonesia sudah berada dalam jalur lambat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Riset MNC Securites Edwin Sebayang di Jakarta, Selasa (4/10). Pernyataan itu juga sekaligus menanggapi kekhawatiran para pelaku pasar akan terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional.

Salah satu yangg menjadi alasa Edwin, adalah pada data ekspor Indonesia yang dikeluarkan Biro Pusat Statistik (BPS) untuk Agustus 2011 yang sebesar 18,2 miliar dolar AS atau lebih tinggi ketimbang ekspor Juli 2011 yang sebesar 17,5 miliar dolar AS.

Kejatuhan kejatuhan indeks harga saham di sejumlah bursa dunia, menurut dia, lebih disebabkan oleh ketakutan investor terhadap dampak dari krisis utang Eropa, terutama yang kini dialami Yunani.

Selain itu, lanjut Edwin, belum adanya keputusan dari para pemimpin Eropa untuk mengucurkan dana talangan tahap berikutnya bagi Yunani, membuka kemungkinan negara itu mengalami gagal bayar atas utang-utangnya.

sedangkan krisis yang terjadi di wilayah Eropa dan Amerika Serikat yang telah berlangsung hampir dua tahun, tutur dia, belumlah mengindikasikan akan berimbas terhadap ekonomi Indonesia.

"Ini juga juga mengimplikasikan bahwa negara tujuan ekspor Indonesia belum terlalu terpengaruh dengan perlambatan ekonomi," tuturnya.

Dari sisi pasar modal, Edwin menambahkan, melihat kejatuhan indeks Dow Jones, Senin, yang hanya merosot 2,36 persen dan bursa Eropa seperti Inggris, Jerman dan Prancis yang turun berkisar 1 persen sampai 2 persen.

"Itu artinya jauh lebih kecil dari dugaan awal dan jauh lebih kecil dari penurunan yang terjadi di bursa Indonesia pada awal pekan ini yang mencapai 5,4 persen," katanya.

"Investor Indonesia mengalami kepanikan ketimbang investor di Eropa dan Amerika. Padahal kita mengetahui bersama bahwa sumber permasalahan ekonomi dan keuangan global berasal dari kedua benua tersebut," bebernya.

Lebih lanjut Edwin menjelaskan bahwa kekhawatiran terhadap krisis utang Yunani, yang ditakutkan akan mengalami gagal bayar jika tidak segera mendapatkan kucuran dana talangan tahap kedua.

Ditambah lagi dengan melemahnya indikator manufaktur di Eropa, adalah faktor yang menekan kinerja bursa global selama sesi perdagangan Senin.

Kekhawatiran yang kian meningkat bahwa Yunani akan segera mengalami gagal bayar, bahkan mengalahkan sentimen positif dari membaiknya data manufaktur dan belanja konstruksi di AS selama September. (mad)