Sabtu, 18 November 2017 | 05:54 WIB
Ekonom: Sektor Energi Lebih Strategis Ketimbang Otomotif
Senin, 13 Oktober 2014 | 20:32 WIB
Ekonom dari Uinversita Ageng Tiryasa, Banten, Danhil Anzar Simanjuntak - [skalanews]

Skalanews -  Ekonom dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten, Dahnil Anzar Simanjuntak, menilai pembangunan sektor energi lebih penting ketimbang bisnis otomotif yang lebih mementingkan investor asing.

"Saya pikir, sektor energi lebih strategis ketimbang desakan asing itu, investor untuk ke daerah distribusi kendaraan. Saya pikir lebih strategis mempersiapkan cadangan energi kita," kata Dahnil Anzar kepada wartawan, Senin (13/10).

Dia mengatakan hal ini terkait dengan isu yang menyatakan, pembangunan Pelabuhan Cilamaya di Karawangan dibangun untuk kepentingan Jepang agar mempermudah pengiriman suku cadang dan hasil produksi mesin mobil.

Menurut Dahnil, munculnya rencana pembangunan Pelabuhan Cilamaya merupakan wujud tak konsistennya pemerintah. Pemerintah, kata dia, pasti mengetahui bahwa di area tersebut  merupakan wilayah operasi Pertamina Hulu Energi (PHE ONWJ) yang tidak bisa diganggu.

Dia menambahkan, area itu merupakan daerah terlarang dan terbatas (DTT) sesuai keputusan Direktorat Jenderal Migas No.6661/1803/DMT/2009, tanggal 7 April 2009, sebagaimana surat rekomendasi Ditjen Perhubungan Laut No.NA.703/01/02/00.09, tanggal 14 Januari 2009.

Selain itu, PHE ONWJ juga ditetapkan sebagai Obyek Vital Nasional (Obvitnas) berdasarkan keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No 3107K/07/MEM/2012, seperti diatur Keputusan Presiden (Kepres) No 63 Tahun 2001.

"Hal yang kerap terjadi di pemerintahan, meski satu wilayah sudah ditetapkan menjadi kawasan terlarang, ujug-ujug' ada tata ruang baru yang menyatakan kawasan itu bisa dibangun. Ini sering terjadi, seperti masalah hutan lindung, ternyata diberikan izin untuk hutan produksi. Saya pikir, ini lemahnya birokrasi kita dalam melakukan tata kelola perecanaan dan perizinan," tandasnya.

Pemerintah, katanya, harus bersikap tegas jika memang benar rencana pembangunan pelabuhan tersebut mengganggu sektor migas nasional.

"Jadi, pertimbangkan untuk menunda atau membatalkan Pelabuhan Cilamaya agar kawasan itu tetap fokus pada pengembangan eksplorasi migas dan energi lainnya, adalah tindakan wajar," tuturnya.

Sebelumnya, Rovicky Dwi Putrohari, Ketua Ikatan Umum Ahli Geologi Indonesia (IAGI), menyebut pemindahan lokasi pelabuhan sejauh 3 kilometer dari rencana awal bukanlah solusi, karena tetap akan mengganggu produksi migas. (Frida Astuti/buj)