Kamis, 19 Oktober 2017 | 14:04 WIB
Selain Bank Mutiara terlalu mahal, inti bisnisnya pun tak sesuai dengan rencana ekspansi BNI yang akan menggabungkan antara Bahana Securities dengan BNI Sekuritas
BNI Lebih Pilih Bahana Daripada Mutiara
Senin, 25 Juli 2011 | 18:49 WIB
Direktur Utama BNI, Gatot M. Suwondo/foto.andika wahyu -
Jakarta –  Rencana PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) untuk mengakuisisi PT Bank Mutiara Tbk (dh. Bank Century) hanya bertepuk sebelah tangan. Walau sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian BUMN selaku pemegang saham telah mendorong untuk membelinya.

Seperti yang dijelaskan Direktur Utama BNI Gatot M. Suwondo dalam konferensi pers menyoal kinerja Semester I-2011 di Gedung BNI, Jalan Sudirman, Jakarta pada Senin (25/7/2011) bahwa harga jual Bank Mutiara sebesar Rp 6,7 triliun itu terlalu mahal.

"Mahal, saya kira Rp 6,7 triliun untuk Bank Mutiara itu terlalu mahal," ujar dengan yakin

Alasannya tak cuma mahal saja, Gatot mengakui core bisnis Bank Mutiara itu tidak sejalan dengan bisnis dan ekspansi perseroannya. Karena dalam proses akuisisi itu sebelumnya harus dilihat lebih dulu segmen dari bank yang akan diakusisi.

“Akuisisi itu ada banyak hal yang harus diperhatikan, pertama harus bisa bersinergi. Misalkan, apakah cabangnya terjadi overlap atau tidak. Kalau memang tidak sejalan, ya jika Bank Mutiara banting harga juga belum tentu juga," jelasnya.

Apalagi, tegas Gatot ketika dilihat dari nilai buku Bank Mutiara bisa melebihi Rp 8 triliun itu sudah pasti tidak akan mencukupi modal BNI.

Namun, pihaknya akan lebih tertarik untuk akuisisi Bahana Securities dan akui Gatot keinginan itu sudah disampaikan ke Kementerian BUMN melalui surat.

"Akuisisi Bahana, kita sudah kirim surat ke kantor Menteri BUMN tapi di sisi internal masih reses, kita masih menunggu gimana perkembangan selanjutnya. Kantor Kementerian lagi disibukan soal BPJS, jadi proposal kita masih dinomorduakan," tuturnya.

Memang sebelumnya, Kementerian BUMN telah menyetujui penukaran obligasi rekap BNI dengan mengambil alih Bahana Securities. Pasalnya, setelah peralihan itu, BNI dapat menggabungkan antara Bahana Securities dengan BNI Sekuritas sehingga memperkuat kapasitasnya.

Dari aksi itu, BNI mengincar salah satu dari dua perusahaan BUMN yang bergerak di insititusi keuangan yaitu Bahana Securities dan Danareksa Sekuritas. Diharapkan BNI dapat menukar salah satu perusahaan tersebut dengan obligasi rekap senilai Rp17 triliun. (bus)