Kamis, 19 Oktober 2017 | 14:05 WIB
Akhir pelarian pelaku pembobolan dana mulai dari Bank Mandiri ke BNI
Siapa Ahmad Fadillah Si Pembobol BNI Dan Mandiri Itu?
Kamis, 31 Maret 2011 | 16:26 WIB
kecerdikannya patut diacungi jempol -
Sepak terjang Ahmad Fadillah alias Andri Aminuddin di dunia kejahatan perbankan tidak perlu diragukan lagi.

Sebelum melakukan aksinya pembobol dana kredit di Sentra Kredit Menengah (SKM) senilai Rp 4,5 miliar di BNI 46 Cabang Gambir ini, pria yang berusia 38 tahun ini merupakan residivis yang dicari-cari kepolisian selama ini.  

Ahmad Fadillah juga dianggap terlibat aksi pembobolan dana deposito milik PT Tabungan Asuransi  Pegawai Negeri (Taspen) yang disimpan di Bank Mandiri Kantor Kas Rawamangun Balai Pustaka senilai Rp. 110 miliar pada 2006 lalu.

Walaupun dalam kasus pembobolan dana Taspen ini hanya berperanannya hanya sebagai penampung dana hasil kejahatan dari Bank Mandiri, namun setidaknya dia dikenal sebagai salah satu otak pelaku kejahatan di perbankan. 

Harus diakui, Ahmad Fadillah lihai dan cerdik dalam mendekati oknum pejabat bank yang ‘bisa diajak kerjasama’.   

Paling tidak peran Ahmad ikut penikmati dana dari aksi pembobolan Rp. 110 miliar itu dengan cara  mengelabui pimpinan Bank Mandiri untuk melakukan pemindahbukuan. Tercatat, pada November 2006, terjadi transfer ke atas nama Andri Aminudin senilai Rp 20 miliar dan Rp 30 miliar.

Transfer dari deposito Taspen ini masuk ke rekening Andri Aminudin yang dilakukan secara berturut-turut, sehingga akhirnya mencapai total  Rp 98 miliar milik Taspen itu ludes. Sementara sisanya Rp. 12 miliar ternyata masih tersimpan di deposito Bank Mandiri atas nama PT Taspen.

Sebenarnya modus pencurian duit  BNI Cabang Gambir senilai Rp 4,5 miliar itu nyaris tak berbeda dengan kasus-kasus pembobolan dana yang pernah ada selama ini, caranya 'hanya' dengan memperdaya para pejabat bank yang sudah menjadi targetnya.

Untuk kasus pembobolan dana Bank Mandiri ini, aparat kepolisian sudah berhasil menghukum sejumlah pelaku, diantaranya Kepala Bank Mandiri Kantor Kas Rawamangun Balai Pustaka Rawamangun, Agoes Rahardjo, Agus Saputra, Arken, Germani Prawira Supraja alias Gery dan Ratna Lenny Tobing.

Dan selanjutnya kasus ini dikembangkan Kejaksaan Tinggi  DKI Jakarta serta langsung menahan  Ass. Manajer Divisi Investasi PT Taspen, Mettius Nehrir dan Direktur Keuangan PT Taspen Heru Maliksjah dan telah memvonisnya

Perlu diketahui, pemindahan dana Taspen ini sebenarnya berasal dari Bank Mandiri Capem Cempaka Putih yang jumlahnya Rp. 150 miliar. Dana sebanyak itu mengalir ke Bank Mandiri Kantor Kas Rawamangun sebesar Rp. 110 miliar yang dilakukan sebanyak lima kali setoran dana selama November 2006 – Januari 2007 dan sisanya mampir ke BNI dan BTPN (Bank Tabungan Pensiunan Nasional).  

Penempatan dana ini ternyata diketahui  komplotan, Agus Saputra dan Arken yang mengaku sebagai pengusaha – fund manager untuk menemui Kacab Bank Mandiri Kantor Kas Rawamangun Balai Pustaka, Agoes Rahardjo pada November 2006.

Saat itu, Agus Saputra dan Arken pun mengaku sebagai pihak yang telah diberi kepercayaan mengelola dana Taspen dan meminta dana tersebut untuk transfer.  

Tergiur rayuanya, Agoes pun menyarankan membuka rekening giro dan rekening deposito untuk menerima kucuran (transfer) dana dari Taspen.

Setelah melalui proses administrasi, akhirnya Agoes membuatkan dua rekening giro di Bank Mandiri Cabang Rawamangun Balai Pustaka dengan atas nama Andri Aminuddin

Keyakinan penempatan dana ini lantaran sebelumnya, pada 30 Oktober 2006, Ia mengaku telah mengirimkan surat penawaran untuk penempatan dana kepada Direktur Keuangan Taspen, Heru Maliksyah.

Surat itu, lantas dijawab Heru Maliksyah yang isinya mengenai permintaan bunga khusus dan dana dapat dicairkan sewaktu-waktu. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana mungkin Arken dan Agus Saputra bisa mengetahui adanya penawaran ini.

Singkat cerita, setelah nomor rekening dan buku cek diperoleh, dana Taspen mulai mengucur Rp 20 miliar pada 15 November 2006 dengan perintah untuk ditempatkan dalam deposito yang masing-masing Rp 10 miliar. Sesuai perintah yang telah direkayasa Agus Saputra dan Arken, Agoes Rahardjo hanya membuatkan deposito yang masing-masing Rp 1,5 miliar.

Pada 18 Desember 2006 dana Taspen masuk kembali ke rekening giro Rp 30 miliar. Lagi-lagi dengan modus yang sama, Agoes Rahardjo membuat sertifikat deposito Rp 3 miliar. Kemudian pada 7 Januari 2007, dana masuk lagi Rp 30 miliar dan ditempatkan dalam deposito Rp 3 miliar.

Semua transfer dana Taspen itu ternyata telah dibuatkan sertifikat deposito fiktif oleh Agoes Rahardjo sesuai nominal transfer.

Selanjutnya pada 1 Maret 2007, Agus Saputra dan Arken membuka rekening giro baru sekaligus menerima kucuran dana Taspen Rp 30 miliar. Ternyata, deposito yang tercatat hanya Rp 3 miliar.

Jadi, total jenderal dana yang dikucurkan Taspen dalam empat kali transfer sebesar Rp 110 miliar, sementara deposito yang tercatat hanya Rp 12 miliar.

Dari hasil proses penyidikan, kepolisian mengungkapkan Agoes Rahardjo menerima komisi Rp 2,6 miliar. Sedangkan, Agus Saputra dan Arken, masing-masing mengantongi Rp 10 miliar dan Rp 16 miliar.

Dana ini juga mengalir kepada dua orang yang bertindak sebagai broker, yakni Germani Prawira Supraja alias Gary, dan Ratna Lenny Tobing. Keduanya masing-masing menerima Rp 1 miliar.

Belakangan muncul nama tersangka baru, Andri Aminuddin. Tersangka yang kini berstatus buron itu juga tercatat sebagai penerima dana transfer tersebut. Secara keseluruhan, sejauh ini kepolisian telah berhasil mengamankan (memblokir) Rp 29 miliar dari rekening para tersangka.

Selain itu ada pula barang bukti lain, berupa tiga unit rumah dan satu ruko di kawasan Jakarta Timur, tiga sertifikat tanah dan bangunan di Denpasar, Bali, dua sertifikat tanah dan bangunan di Kudus, Jawa Tengah, dua unit mobil, serta uang tunai Rp 18 juta dan US$ 110.000. (bus)