Kamis, 19 Oktober 2017 | 14:04 WIB
Guna pelaksanaan Putusan Mahkamah Agung atas nama terpidana John Hamenda terpidana telah membayar denda kepada Kejari Jakarta Selatan dan langsung disetorkan ke kas negara pada hari Jumat tanggal 16 September 2011 lalu
Terpidana Kasus L/C Fiktif BNI Bayar Denda Rp1 Miliar
Kamis, 22 September 2011 | 00:35 WIB
ilustrasi -
Jakarta - Terpidana 20 tahun penjara, John Hamenda dalam kasus letter of  credit (L/C) fiktif pada PT Bank Negara Indonesia (BNI) Kantor Cabang Kebayoran Baru, Jakarta membayar uang denda sebesar Rp1 milyar kepada negara.

Seperti yang dikatakan Kajari Jakarta Selatan, Mashyudi pada pada Rabu (21/9), mengatakan, bahwa guna pelaksanaan Putusan Mahkamah Agung No. 660 K/Pid/2005 tanggal 31 Mei 2005 dalam perkara atas nama terpidana John Hamenda terpidana telah membayar denda kepada Kejari Jakarta Selatan dan langsung disetorkan ke kas negara pada hari Jumat tanggal 16 September 2011 lalu.

Atas putusan Mahkamah Agung tersebut, John Hamenda yang didenda Rp1 milyar dan berdasarkan surat perintah  Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan No: 194/0.1.14/Fu.I/09/2011 tanggal 16 September 2011 dengan Surat Setoran Bukan Pajak No. 05/SSBP/0932011 tangal 16  September 2011 Kejari Jaksel telah menyetor Rp1 milyar ke kas negara.

Terpidana John Hamenda selaku Direktur Utama PT Petindo Perkasa bersama-sama dengan Drs. Edy Santoso (dalam perkara terpisah) selaku pimpinan bidang pelayanan nasabah luar negeri pada PT BNI kantor cabang Kebayoran Baru, telah menyerahkan dokumen ekspor fiktif, mencari dana sebesar US$10.030.000.

Kemudian dana tersebut dimasukan ke rekening BNI cabang Kebayoran Baru, Jakarta  sebagai penampungan pendiskontoan L/C.  Kemudian hasil pendiskontoan dikreditkan pada tanggal 2 Juli 2002 ke rekening rupiah milik PT. Petindo Perkasa senilai Rp.8.630.865.700 dan didebet oleh Edy Santoso untuk pembayaran L/C PT Petindo Perkasa dan dana hasil L/C PT Gramarindo Mega Indonesia dan PT Magnetiq Usaha Esa Indonesia

Akibat berbuatan tersebut Bank BNI cabang Kebayoran Baru Jakarta Selatan menderita kerugian  sekitar US$ 8.987.379,39 (bus)