Sabtu, 18 November 2017 | 06:07 WIB
Internasional
Kementerian Luar Negeri Aljazair mengumumkan bahwa isteri Gaddafi Safiya, puterinya Aisha, dan dua puteranya, Mohammad dan Hannibal, semuanya telah menyeberang perbatasan untuk memasuki Aljazair dengan naik mobil.
Aljazair Diminta Ekstradisi Istri dan Tiga Anak Gaddafi
Selasa, 30 Agustus 2011 | 19:45 WIB
-
Para pemimpin pemberontak di Libya telah menuntut pihak berwenang di Aljazair agar mengekstradisi isteri dan 3 anak Gaddafi, setelah rombongan itu memasuki Aljazair Senin pagi.

Kementerian Luar Negeri Aljazair mengumumkan bahwa isteri Gaddafi Safiya, puterinya Aisha, dan dua puteranya, Mohammad dan Hannibal, semuanya telah menyeberang perbatasan untuk memasuki Aljazair dengan naik mobil.

Mereka mengatakan para istri atau suami anak pemimpin Libya itu serta anak mereka juga telah tiba. Para pejabat di Aljazair mengatakan mereka telah melaporkan informasi itu kepada Sekjen PBB dan Dewan Transisi Nasional oposisi Libya.

Para pejabat pemberontak sebelumnya telah menuduh Aljazair --satu-satunya tetangga Afrika Utara Libya yang belum mengakui Dewan Transisi Libya –mendukung Gaddafi dan menyediakan kepadanya tentara bayaran untuk menumpas pemberontakan.

Aljazair telah membantah tuduhan itu. Pemimpin Libya itu belum kelihatan sejak para pemberontak merebut ibukota pekan lalu, tetapi Gedung Putih mengatakan pemerintah Amerika tidak melihat indikasi bahwa Gaddafi sudah keluar dari Libya.

Keberadaan dua putera lain Gaddafi, yang memainkan peran penting dalam militer dan kehidupan ekonomi Libya, juga tetap tidak diketahui. Sementara itu, organisasi hak azasi Amerika mengatakan mereka telah mengungkapkan bukti kemungkinan kejahatan perang oleh pasukan pro-Gaddafi di Misrata.

Organisasi Dokter untuk Hak Azasi mengatakan dalam laporan yang dikeluarkan Selasa (30/8) bahwa pasukan yang setia kepada Gaddafi melakukan pembunuhan, penyiksaan, perkosaan dan penahanan paksa.

Laporan itu mengatakan pasukan memaksa kaum sipil berfungsi sebagai perisai manusia untuk mengawal persenjataan militer terhadap serangan NATO, dan menghambat kaum sipil menerima bantuan kemanusiaan. [mad/VOA]