Selasa, 24 Oktober 2017 | 14:39 WIB
Korupsi
Pebisnis Indonesia Marak Lakukan Suap di Luar Negeri
Kamis, 3 November 2011 | 10:56 WIB
-
Skalanews - Para pebisnis dari perusahaan-perusahaan asal Indonesia ternyata gemar menyuap saat berbisnis di Luar negeri. Ini terungkap dari hasil survey terbaru lembaga pemantau korupsi, Transparency International.

Hasil survey Transparency International bahkan menempatkan para pebisnis asal Indonesia dalam peringkat ke-empat, daftar pebisnis dunia yang gemar menyuap berdasarkan Indeks BPI Bribery Payers Index yang terdiri dari 28 negara.

Menurut Manajer Tata Kelola Ekonomi Transparency International Indonesia, Franky Simanjuntak, hasil ini menunjukan tingginya kecenderungan perusahaan-perusahaan asal Indonesia menyuap demi memuluskan bisnisnya di luar negeri.      

"Nama para pebisnis asal Indonesia, dalam survey itu kerap diungkap sebagai pemberi suap oleh para responden yang merupakan para pebisnis dari sejumlah negara," kata Franky Simanjuntak di Jakarta, Rabu (2/11).

Tidak disebutkan, di negara mana saja praktek suap ini dilakukan para pebisnis Indonesia. Namun Franky Simanjuntak dari TII menduga, kemungkinan dilakukan di negara-negara dengan kontrol hukum yang lemah.

Lebih jauh, Franky Simanjuntak menyebut, perilaku buruk para pebisnis Indonesia saat berbisnis di luar negeri ini mengindikasikan kebiasaan mereka menyuap di dalam negeri. Ia mengkhawatirkan, hasil survey ini di masa mendatang akan menurunkan kredibilitas pebisnis asal Indonesia di mata internasional.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Natsir Mansyur mengakui, hasil survey ini mencemaskan, karena berpotensi menyulitkan langkah pebisnis Indonesia di masa depan.

Bersama para pebisnis asal Indonesia, survey itu secara berurutan menempatkan para pebisnis asal Rusia, Cina dan Meksiko dalam daftar teratas yang gemar memberi suap.

Sebaliknya, sejumlah pebisnis asal Belanda, Swiss, Belgia, Jerman dan Jepang masuk dalam kelompok pengusaha yang nyaris tidak pernah memberi suap untuk memuluskan bisnis mereka di luar negeri.

Betapapun secara keseluruhan, rendahnya indeks dalam survey kali ini menunjukan, tidak ada negara yang pebisnisnya benar-benar bersih dari praktik suap. [mad/www.dw-world.de]