Kamis, 19 Oktober 2017 | 14:02 WIB
Untuk kasus Wisma Atlet, KPK di tuding sengaja melindungi Andi Mallarangeng.
Komisi III Nilai KPK Tak Konsisten
Rabu, 26 Oktober 2011 | 14:21 WIB
KPK diduga melakukan tebang pilih (Skalanews/Eddy tarigan) -
Skalanews - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali dicecar oleh anggota Komisi III terkait dengan banyaknya kasus-kasus besar yang belum dituntaskan oleh lembaga itu. Karena itu, KPK dianggap tidak konsisten dalam menjalankan tugasnya.

Hal itu terungkap dalam rapat dengar pendapat anatara KPK dengan Komisi III DPR, hari ini di Jakarta, Rabu (26/10).

Pertanyaan itu antara lain muncul dari Abubakar Al Habsy dari Partai Keadilan sejahtera (PKS). Abubakar menganggap, KPK lambat dalam menangani perkara dugaan suap dalam proyek wisma atlet di Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Padahal, kata dia, jelas sekali uang negara digarong dalam proyek itu. Dia lantas membandingkan kasus itu dengan kasus dugaan suap di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. KPK, menurutnya, sangat cepat dalam menangani kasus itu. Itu sebabnya dia bertanya kinerja KPK tersebut. "Apa KPK mau menyelamatkan Andi Mallarangeng?" kata Abubakar.

Tak cuma soal itu, politikus PKS itu juga mempertanyakan konsistensi KPK dalam menangani kasus Century berjalan sangat lambat, jika tak mau disebut berhenti.

"Sebanyak 50 ribu kasus di KPK masih mandek. Ada apa ini? Apakah karena keterbatasan penyelidik seperti yang dikemukakan KPK?" tanyanya lagi.

Segendang sepenarian dengan Abubakar, Desmon Mahesa dari Gerindra juga menilai kalau KPK tak pernah menindaklanjuti hasil rapat dengar yang selama ini dilakukan dengan Komisi III. Karena itu, Desmon beranggapan kalau KPK hanya menganggap rapat itu hanya seolah-olah saja.

Sementara itu politisi dari Gerindra, Desmon J Mahesa mempertanyakan keseriusan Komisi Pemeberantasan Korupsi. Sebab, hasil-hasil Rapat Dengar Pendapat selama ini tidak pernah ditindaklanjutinya

"Ini persoalan-persoalan yang sebenarnya harus  menjadi catatan kita,"ujarnya. Oleh karena itu, ke depan, Desmon meminta agar komisinya itu bertindak tegas terhadap masalah tersebut.[Kristian Ginting/Pay]