Jumat, 24 November 2017 | 21:58 WIB
Greenpeace Minta Bank Hentikan Kredit ke Tambang Batu Bara
Jumat, 19 Februari 2016 | 07:00 WIB
ilustrasi -

Skalanews - Juru Kampanye Senior untuk Greenpeace Indonesia, Arif Fiyanto mengatakan setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Timur memerintahkan penghentian kredit usaha tambang batu bara, seharusnya seluruh bank di Indonesia juga melakukannya.

Arif dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (18/2) mengatakan penghentian kredit untuk usaha pertambangan batu bara menjadi pukulan penuh terhadap ambisi industri batu bara Indonesia.

Namun, menurut dia, keputusan tersebut memberikan dampak kehidupan kepada ribuan orang di Kalimantan Timur yang kehidupannya telah hancur oleh industri pertambangan batu bara.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa prospek pemulihan harga batu bara tidak ada, dan jika kredit usaha pertambangan batu bara tetap diteruskan itu akan seperti berjudi dengan masa depan.

Menurut Arif, pengumuman OJK membuatnya menjadi semakin jelas, pinjaman untuk pertambangan menjadi sangat berisiko bagi lembaga keuangan, dan semua bank harus menghentikan dana operasi untuk batu bara di Indonesia.

Berdasarkan catatan baru pada sektor perbankan Indonesia yang dimiliki IMF, menurut dia, memperlihatkan bahwa kewajiban sektor batu bara naik sekitar 30 persen sejak 2008, sedangkan pendapatan operasi tumbuh hanya 10 persen, dan keuntungan menurun.

Indonesia adalah eksportir batu bara terbesar di dunia, dan penambang terbesar Bumi Resources telah berjuang dengan kebangkrutan selama lebih dari satu tahun sekarang, kata Arif.

Sebagian besar paparan kredit macet di Kalimantan Timur adalah penambang skala menengah dan kecil yang lebih cenderung dibiayai oleh bank-bank Indonesia, mengingat perusahaan tambang batu bara yang lebih besar memiliki akses ke pasar modal dan bank internasional.

Sebelumnya, Kepala OJK Kalimantan Timur Dedi Satria mengatakan kelesuan bisnis batu bara membuat lembaga pengawas jasa keuangan memerintahkan bank untuk tidak lagi memberikan kredit.

Kalimantan Timur memiliki 28 persen dari total cadangan batu bara Indonesia.

Areal seluas negara Swiss itu telah dialokasikan untuk pertambangan di seluruh provinsi, dengan kerusakan masif terhadap hutan, pencemaran persediaan air, dan perpindahan masyarakat setempat. (bus/ant)