Kamis, 19 Oktober 2017 | 19:51 WIB
Hingga April, Kondisi Stabilitas Keuangan Terjaga
Kamis, 11 Mei 2017 | 05:22 WIB
-

Skalanews - Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Rabu menilai stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia hingga April dalam kondisi terjaga.

"Beberapa aspek seperti pertumbuhan ekonomi global diperkirakan membaik namun dengan arah perbaikan yang tidak merata," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad dalam pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu (10/5).

Perekonomian Advanced Economies (AE) khususnya Amerika Serikat dan Eropa semakin solid, sehingga meningkatkan ekspektasi berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter.

Sementara itu, perekonomian Emerging Markets (EM) khususnya negara pengekspor komoditas diperkirakan masih terkendala terkait dengan proses rebalancing ekonomi Tiongkok.

Di tengah perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi domestik triwulan I-2017 tercatat sedikit meningkat menjadi 5,01 persen (yoy). Dari sisi pengeluaran, perbaikan pertumbuhan ekonomi didorong oleh perbaikan kinerja eksternal seiring peningkatan ekspor yang didorong oleh kenaikan harga komoditas.

Dari sisi sektoral, sektor pertanian tumbuh signifikan, salah satunya disebabkan pergeseran panen raya. Sementara itu, laju inflasi April 2017 terlihat meningkat, tercatat sebesar 4,17 persen (yoy).

Di pasar keuangan domestik, sejalan dengan penguatan pasar keuangan global pada April 2017, baik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan yield Surat Berharga Negara (SBN) terus melanjutkan penguatan.

IHSG meningkat sebesar 2,1 persen mtm (ytm: 7,34 persen) dan kembali mencatat rekor tertinggi pada 26 April 2017 pada posisi 5.726,53. Investor nonresiden mencatatkan net buy signifikan sebesar Rp13,9 triliun (ytm: net buy Rp22,2 triliun).

Pasar SBN juga menguat ditandai oleh penurunan yield SBN di semua tenor dan net buy oleh nonresiden sebesar Rp22,6 triliun (ytm: net buy Rp79,9 triliun).

Di sisi intermediasi lembaga jasa keuangan, tercatat perbaikan yang terus berlanjut. Kredit perbankan Maret 2017 tumbuh sebesar 9,24 persen yoy (Februari: 8,57 persen yoy) dan piutang pembiayaan tumbuh sebesar 8,45 persen yoy (Februari: 7,2 persen yoy).

Kinerja ini didukung dengan kinerja penghimpunan dana yang juga terus meningkat. Dana Pihak Ketiga (DPK) Perbankan per Maret 2017 tumbuh sebesar 10,02 persen yoy (Februari: 9,21 persen yoy) dan pendapatan premi asuransi Januari-Maret 2017 tercatat sebesar Rp50,1 triliun atau meningkat sebesar 17,6 persen dari periode yang sama tahun 2016.

Penghimpunan dana di pasar modal juga terus meningkat. Pada periode Januari-April 2017, terdapat 36 emiten melakukan penghimpunan dana melalui pasar modal dengan nilai sebesar Rp46,2 triliun atau meningkat sebesar 108,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2016.

Dari 36 emiten yang melakukan penghimpunan dana, terdapat delapan emiten baru. OJK optimis target 21 emiten baru di 2017 dapat tercapai.

Di tengah meningkatnya intermediasi keuangan, risiko Lembaga Jasa Keuangan (LJK) baik kredit, likuiditas, maupun pasar terpantau berada pada level yang manageable.

Risiko kredit terpantau stabil pada Maret 2017. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross dan net tercatat masing-masing sebesar 3,04 persen (Februari: 3,16 persen) dan 1,34 persen (Februari: 1,38 persen), sedangkan rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan tercatat sedikit meningkat menjadi 3,16 persen (Februari: 3,03 persen).

"Ke depan, OJK melihat proses pemulihan ekonomi global semakin solid dan akan berdampak positif pada sektor jasa keuangan," ujar Muliaman.

OJK juga melihat masih ada ruang di sektor jasa keuangan untuk memacu pertumbuhan ekonomi domestik lebih jauh dengan memanfaatkan momentum perbaikan yang sedang berlangsung.

Beberapa risiko seperti normalisasi kebijakan di negara maju maupun isu euroscepticiesm diperkirakan mulai mereda. Meskipun demikian, OJK akan terus memantau berbagai perkembangan baik dari global maupun domestik yang dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan. (bus/antara)