Sabtu, 18 November 2017 | 06:04 WIB
Inflasi Oktober Rendah, Ini Penyebabnya
Kamis, 2 November 2017 | 07:11 WIB
-

Skalanews - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan inflasi pada Oktober 2017 tercatat sebesar 0,01 persen karena harga bahan makanan dalam periode ini nisbi terjaga.

"Harga-harga komoditas dalam periode Oktober 2017 tercatat stabil," kata Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu.

Suhariyanto mengatakan harga bahan makanan yang tercatat mengalami penurunan pada Oktober 2017 yaitu daging ayam ras, bawang merah, bawang putih dan ikan segar.

Meski demikian, harga komoditas pangan lainnya seperti cabai merah dan beras masih mengalami kenaikan dan menjadi penyumbang inflasi.

Suhariyanto mengatakan cabai merah memberikan andil inflasi dalam periode ini sebesar 0,05 persen dan beras sebesar 0,04 persen.

"Meski harga pangan turun, namun harga cabai merah dan beras masih naik. Ini menyebabkan terjadinya kenaikan inflasi tipis, karena bobot dua komoditas ini besar terhadap inflasi," ujar Suhariyanto.

Secara keseluruhan, kelompok bahan makanan tercatat deflasi pada periode ini yaitu sebesar 0,45 persen, karena turunnya harga sejumlah komoditas.

Kelompok lainnya yang mengalami deflasi adalah kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,13 persen.

Namun, kelompok lainnya menyumbang inflasi pada Oktober 2017 seperti kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,28 persen.

"Komoditas makanan jadi yang menyumbang inflasi adalah mi, nasi dengan lauk dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,01 persen," tutur Suhariyanto.

Penyumbang inflasi lainnya adalah kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar serta kelompok sandang masing-masing 0,18 persen.

Selain itu, kelompok kesehatan ikut memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,21 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,16 persen.

Dengan inflasi Oktober tercatat 0,01 persen, inflasi inti tercatat sebesar 0,17 persen. Namun harga diatur pemerintah tercatat deflasi 0,01 persen diikuti harga bergejolak yang juga deflasi 0,53 persen.

Dengan demikian, tingkat inflasi tahun kalender Januari-Oktober 2017 mencapai 2,67 persen dan inflasi tahunan (year on year) sebesar 3,58 persen.

Dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), sebanyak 44 kota mengalami inflasi dan hanya 38 kota menyumbang deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 1,05 persen dan inflasi terendah terjadi di Surakarta dan Cilegon masing-masing 0,01 persen.

Sementara itu, deflasi tertinggi terjadi di Palu sebesar 1,31 persen dan deflasi terendah terjadi di Palopo sebesar 0,01 persen. (bus/antara)