Kamis, 19 Oktober 2017 | 19:54 WIB
Asosiasi Advokat Indonesia, Dambakan Satu Kode Etik Profesi
Jumat, 7 Oktober 2016 | 02:13 WIB
-

Skalanews - Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) mendambakan terciptanya satu kode etik bagi profesi advokat di Indonesia. Tak hanya itu, diharapkan juga terciptanya satu standar pendidikan profesi advokat Indonesia.

Demikian disampaikan Ketua Umum AAI, Muhammad Ismak, dalam menanggapi semakin banyaknya organisasi-organisasi profesi advokat di Indonesia, yang terbentuk akibat dari pertikaian-pertikaian para advokat.

"Kita mesti duduk bersama, kesadaran bersama, membicarakan masa depan advokat ini mau seperti apa nantinya. Karena pertikaian organisasi advokat ini tidak baik untuk masa depan advokat," kata Ismak kepada Skalanews.com di Jakarta, Kamis (29/9).

Ismak berpendapat, munculnya pertikaian pasti akan melahirkan banyak organisasi advokat. Kemudian setiap organisasi advokat, mencoba untuk merekrut anggotanya, namun tidak ada standar pendidikan yang sama untuk setiap organisasi advokat tersebut.

"Oleh karena itu kelahiran daripada advokat-advokat yang baru, dari satu organisasi dengan organisasi yang lain itu berbeda-beda, karena berbeda standar pendidikan. Ini bisa menjadi bom waktu, advokat itu akan rugi, masyarakat juga akan rugi," ujarnya.

Dalam perdebatan revisi UU Advokat saja, nilai Ismak, yang paling penting itu kode etik harus satu, dan standar pendidikan juga harus satu. Meski menurut pendapat dia, sewajarnya organisasi profesi memang harus satu, seperti kedokteran atau akuntan.

"Atau notaris juga yang sudah mulai bersatu. Tapi apapun nanti bentuk organisasinya, dua itu yang mesti kita samakan dulu persepsinya. Artinya nanti, berapa banyak organisasi advokat yang lahir, tapi kalau hanya satu kode etik, satu standar pendidikan, ya selesai," tukas dia. (Risman Afrianda)