Sabtu, 18 November 2017 | 05:58 WIB
Ahok Singgung Al-Maidah Untuk Dapat Perhatian Ibu-ibu
Selasa, 4 April 2017 | 23:21 WIB
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) - [foto pool]

Skalanews - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengakui, alasan dirinya menyinggung surat Al-Maidah ayat 51 saat berpidato pada acara budidaya ikan kerapu karena melihat ibu-ibu yang hadir kurang antusias dengan program yang ditawarkan.

Hal itu diungkapkan saat Ahok menjalani pemeriksaan sebagai terdakwa dalam persidangan perkara dugaan penistaan agama di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (4/4).

Awalnya Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto menanyakan ihwal hubungan antara budidaya ikan kerapu dan surah Al-Maidah ayat 51 sebagaimana dalam pidatonya tersebut.

"Maksudnya saudara itu apa? Ikan dengan Al-Maidah itu apa hubungannya?" tanya Hakim Dwiarso.

Ahok pun menjawab, ketika itu ia melihat para ibu-ibu yang hadir tidak antusias dengan program yang dia tawarkan.

"Saya sampaikan berkali-kali keuntungan program ini, tapi warga kurang respons. Saya tebak-tebak, apakah karena uang. Terlintas, ini jangan-jangan kayak di Belitung, orang polos, karena dia pikir dalam Pilkada, harus bayar budi nih kalau milih program," kata Ahok.

Hakim Dwiarso pun bertanya kembali, apakah saat di Belitung juga momentumnya sama dengan panen ikan Kerapu. "Saudara katakan, jangan-jangan seperti di Belitung, apa itu? (tentang) panen Kerapu juga?" tanya Hakim Dwiarso.

Ahok pun menjawab tidak. "Bukan, selebaran menolak saya menjadi gubernur. (Pilkada) 2007," tuturnya.

Hakim Dwiarso pun dengan tegasnya menyatakan bahwa acara tersebut bukanlah kampanye.

"Ya ini hubungannya apa? Saudara di sini ini (Kepulauan Seribu) bukan kampanye Pilkada. Sedangkan di Belitung peristiwa Pilkada 2007 masalah Al Maidah itu. Gimana sambungkan di pikiran saudara itu?" tanya Hakim Dwiarso lagi.

Ahok pun tetap memberikan penjelasan yang sama dipikirnya sikap warga Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu itu sama dengan Belitung.

Sebab, antar warga kenal satu sama lain. Bahkan, suatu waktu, pernah ada seorang ibu yang mengadu sangat suka dengan program Ahok, namun tak bisa memilih Ahok lantaran berbeda agama.

"Dia bilang, 'mohon maaf Hok, ibu gak pilih kamu'. Kenapa saya tanya, 'Ibu takut murtad, meninggalkan agama ibu'," kata dia.

Hakim Dwiarso sendiri kembali pertanyakan soal pidato di Pulau Pramuka pada 27 September 2016. "Tadi sudah disampaikan dan dengar, gak pilih saya gak apa-apa asal program jalan, karena sampai Oktober 2017. Lah terus hubungannya apa dengan Al Maidah? Kalau sampai sini, saya masih bisa menghubungkan," ujar Dwiarso.

Ahok menjawab bahwa alasan orang tidak memilih dia selain program adalah keyakinan. Oleh karena itu dia mengingat Al-Maidah. "Saya yakin sekali, orang nolak saya, selain program dari Bangka Belitung, masalah keyakinan. Baik dengan saya tapi tidak bisa pilih saya," kata Ahok.

Mendengar jawaban Ahok itu, Dwiarso langsung menanyakan kepada Ahok, ihwal kesaksian dari Cawagub pasangannya Eko Cahyono saat mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Bangka Belitung pada tahun 2007.

"Saat memberikan kesaksian Al-Maidah kan bukan satu-satunya dikutip kesaksian Cawagub, kenapa yang muncul bukan kecurangan Babel malah surat Al-Maidah?" tanya Dwiarso.

"Ini pengalaman saya dengan seorang ibu, di Pulau Seribu saya gak ada ngomong Pilkada. Yang saya lihat muka ibu-ibu ini satu pihak takut murtad, satu pihak mau program, takut juga kalau ambil program gak pilih saya soalnya itu orang pulau gitu," jawab Ahok.

Ahok didakwa melakukan penodaan agama karena mengutip surat Al-Maidah ayat 51 saat kunjungan kerja di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada 27 September 2016. Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Ahok dengan dakwaan alternatif antara Pasal 156 huruf a KUHP atau Pasal 156 KUHP. (Bisma Rizal/bus)