Sabtu, 16 Desember 2017 | 16:13 WIB
Sarang Lebah Madu Hutan Pelawan Jadi Objek Wisata
Minggu, 23 Juli 2017 | 20:47 WIB
Sarang Lebah Madu di Hutan/ilustrasi - [ist]

Skalanews - Sarang lebah yang menghasilkan madu manis dan pahit di kawasan Hutan Pelawan di Kecamatan Namang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal dan luar daerah.

"Sekarang sedang musim lebah membentuk sarang yang akan menghasilkan madu, dan ternyata ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Sekarang sarang lebah tersebut menjadi salah satu objek 'shooting' televisi swasta untuk program khusus di televisi mereka," kata penggagas pembangunan Hutan Pelawan, Zaiwan di Namang, Sabtu (22/7).

Ia menjelaskan, kawasan hutan yang ditumbuhi pohon pelawan tersebut memiliki luas sekitar 142 hektare dan satu-satunya hutan yang sudah ditetapkan sebagai hutan Taman Keanekaragaman Hayati (TKH).

"TKH ini berfungsi untuk penelitian, rekreasi, pendidikan, observasi dan perlindungan karena masih asri dan menjadi habitat beragam hewan dan kayu langka," katanya.

Hutan Pelawan awalnya sempat akan dirambah penambang bijih timah namun dirinya saat itu masih menjabat Kepala Desa Namang berupaya keras untuk menjaga kelestarian dan keasrian hutan karena menjadi habitat khusus lebah yang menghasilkan madu manis dan madu pahit.

"Sekarang lebah tetap berada di habitat hutan tersebut dan kini sudah mulai membentuk sarang lagi yang nanti bisa dipanen untuk menghasilkan madu," ujarnya.

Lebah menghasilkan madu setelah membentuk sarang dengan menghisap kembang dari pohon pelawan sehingga disebut madu pelawan.

"Madu tersebut memiliki dua jenis rasa yaitu pahit dan manis, tergantung kembang yang dihisap. Lebah membentuk sarang lumayan besar sehingga sekali panen menghasilkan beberapa liter madu," ujarnya.



Hery, seorang pengunjung hutan wisata madu pelawan mengaku tertarik melihat sarang lebah penghasil madu yang bergelantung di pohon pelawan.

"Lebah itu membentuk sarang cukup besar, tidak terlalu tinggi dan juga tidak rendah. Lebah tersebut tidak mengganggu, tetap sibuk membentuk sarangnya," ujarnya.

Ia mengatakan hutan itu sudah dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung objek wisata baik jalan maupun fasilitas pendukung lainnya.

"Untuk menjangkau hutan ini tidak sulit, jalannya sudah diaspal hanya sekitar 10 menit dari jalan utama atau jalan lintas kabupaten di Desa Namang," katanya. (bus/antara)


  
  
Berita Terkait:
KOMENTAR:
Nama
Email
Komentar