Jumat, 15 Desember 2017 | 18:58 WIB
Internasional
Perempuan Gunakan 5.000 Istilah untuk Haid
Kamis, 3 Maret 2016 | 01:16 WIB
Ilustrasi - [ist]

Skalanews - "Sedang kedatangan teman", "shark week", "on the rag" dan "Bloody Mary" adalah istilah perempuan Inggris untuk haid.

Menurut penelitian, yang berpusat dalam kesehatan seksual dan reproduksi perempuan, kata haid masih tabu digunakan di banyak negara.

Penelitian pada 90 ribu orang dari 190 negara menemukan perempuan menggunakan 5.000 tanda untuk haid dalam menghindari pembicaraan dengan teman atau saudara laki-laki, dan beberapa orang memilih bolos sekolah atau kerja untuk menghindari gejala datang bulan.

Kebanyakan petanggap mengatakan menerima pengetahuan mengenai awal masa haid, namun banyak terjadi kesenjangan. Di Rusia, 75 persen mengatakan tidak menadapatkan keterangan cukup. Di Ukraina, sekitar 60 persen dan di India sekitar 40 persen.

Perempuan Puertoriko adalah yang paling nyaman berbicara mengenai hal tersebut dengan teman kerja dan teman sekelas laki-laki mengenai masa haid, sebaliknya petanggapan dari Saudi Arabia sangat kecil.

Perempuan Puertoriko juga menjadi yang paling nyaman berbicara masalah tersebut dengan saudara laki-laki, dan perempuan Jepang hanya 13 persen yang mengatakan mereka merasa nyaman.

"Sangat disayangkan bahwa banyak perempuan merasa tidak siap untuk berbicara mengenai menstruasi, di banyak wilayah bahkan untuk berbicara dengan keluarga," kata Ida Tin, CEO Clue, perusahaan mengenai kesehatan perempuan yang berpusat di Berlin yang melakukan penelitian tersebut.

"Kami harap dengan peningkatan kesadaran dan edukasi mengenai pentingnya kesehatan perempuan, kita bisa membicarakan hal tersebut secara global," tambah Tin.

Sebanyak 17 persen dari partisipan mengatakan mereka bolos sekolah, kerja bahkan acara karena mereka takut seseorang mengetahui mereka sedang haid.

Hal ini banyak terjadi di Australia, Brazil dan Chile, hampir seperempat petanggapnya melewati sekolah karena mereka sedang dalam masa haid.

Pada skala terakhir, hanya antara lima dan delapan persen orang Singapura, Indonesia dan Italia mengatakan mereka tetap berada di rumah karena mereka tidak mau orang mengetahui mereka sedang dalam masa datang bulan.

"Kami butuh melakukan lebih banyak untuk meyakinkan perempuan dan remaja putri dan mereka merasa nyaman berbicara mengenai kesehatan seksual dan reproduksi dan hak mereka, kata presiden Koalisi Kesehatan Perempuan Internasional Françoise Girard.

Penelitian tersebut diterbitkan pada Senin dilakukan dengan menggunakan aplikasi kesehatan perempuan Clue, dengan bantuan Koalisi Kesehatan Perempuan Internasional yang berpusat di AS yang menyuarakan kesehatan seksual dan reproduksi perempuan ke seluruh dunia. (ant/mar)