Selasa, 19 September 2017 | 18:30 WIB
Internasional
Proses 'Brexit' Tekan Pertumbuhan Zona Euro
Kamis, 12 Januari 2017 | 14:01 WIB
Ilustrasi - [ist]

Skalanews - Proses Inggris mengajukan dan bernegosiasi keluar dari Uni Eropa (EU) atau "Brexit", akan menekan pertumbuhan di zona euro pada tahun ini.

Hal itu diungkapkan ekonom utama Bank Dunia, Franziska Ohnsorge, pada Rabu (11/1).

Franziska Ohnsorge dalam konferensi pers peluncuran laporan Prospek Ekonomi Global (GEP) di London, mengatakan, proses Brexit adalah salah satu ketidakpastian yang dihadapi ekonomi global untuk 2017.

"Kami perkirakan, pertumbuhan kawasan euro menjadi secara luas datar. Kami memperkirakan, seluruh proses Brexit, semua ketidakpastian dan diskusi sekitar itu, kami perkirakan mereka akan membebani sentimen," kata Ohnsorge, yang merupakan penulis utama laporan GEP.

"Ini adalah salah satu alasan mengapa kita tidak memproyeksikan kenaikan besar (dalam pertumbuhan kawasan euro), tapi dengan pertumbuhan sekitar 1,5 persen, masih di atas potensi. Itu adalah pertumbuhan yang solid di kawasan euro," katanya.

Ohnsorge menyatakan, Bank Dunia telah terkejut tentang ketahanan ekonomi Inggris setelah pemungutan suara Brexit, ketika banyak ekonom dan pelaku bisnis meramalkan kesulitan ekonomi.

"Kami tidak memperkirakan pasar keuangan bertahan dengan baik, untuk kepercayaan bertahan dengan baik, dan untuk kegiatan bertahan dengan baik. Selain itu, dalam pandangan kami respon proaktif dari bank sentrak Inggris, Bank of England (BoE), dan koordinasi seluruh bank-bank sentral telah menjaga pasar keuangan sangat tenang," kata Ohnsorge.

BoE telah mengurangi suku bunga dari 0,5 persen menjadi 0,25 persen, sebagai respons terhadap potensi bahaya dari keputusan Brexit, dan juga telah membangkitkan kembali program penghindaran kuantitatif yang terbengkalai.

Dia mengatakan, Bank Dunia memperkirakan konsumen dan bisnis di Inggris akan "menjadi jauh lebih hati-hati dalam keputusan pengeluaran mereka, dan terutama dalam rencana investasi mereka" pada tahun ini.

Ini dapat memiliki efek peredam pada pertumbuhan ekonomi, diperkirakan oleh National Institute for Economic and Social Research (NIESR) pada Rabu hanya 2,0 persen pada 2016.

"Dan investasi membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk pelaksanaannya. Jadi jika mereka menjadi lebih hati-hati sekarang, mungkin akan ada efek yang tertinggal dalam investasi," kata Ohnsorge. (xin/ant/tat)