Kamis, 19 Oktober 2017 | 14:13 WIB
Internasional
Panglima Militer Myanmar Tak Akui Rohingya
Jumat, 13 Oktober 2017 | 11:38 WIB
Pengungsi Rohingya - [ist]

Skalanews - Panglima militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing kepada duta besar Amerika Serikat menyatakan, muslim Rohingya bukan warga asli Myanmar.

Aung Hlaing mengungkapkan itu, dalam pertemuan di mana dia sama sekali tidak menanggapi tuduhan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan orang-orangnya.

Dalam halaman Facebook-nya, Min Aung Hlaing menuduh media telah melebih-lebihkan jumlah pengungsi yang melarikan diri.

Sebaliknya, Kantor HAM PBB menyebut pasukan Myanmar secara brutal mengusir setengah juta orang Rohingya dari negara bagian Rakhine di bagian utara Myanmar ke Bangladesh dalam beberapa pekan belakangan, membakar rumah-rumah, hasil panen dan desa-desa untuk mencegah mereka kembali.

Ribuan orang Rohingya meninggalkan negara bagian itu, Kamis, menuju Bangladesh menggunakana perahu. Mereka mengaku kekurangan makanan, dan takut terhadap aksi represif.

Menurut seorang pejabat Myanmar, orang-orang pergi, tapi bukan karena kelaparan dan intimidasi.

Min Aung Hlaing memberikan laporannya tentang krisis pengungsi Rohingya, kepada delegasi berbagai negara dalam pertemuan dengan Dubes AS Scot Marciel.

Jenderal ini adalah orang paling kuat di Myanmar yang mayoritas penduduknya menganut Buddha, dan sikapnya yang tak mengenal kompromi mengindikasi dia kurang sensitif terhadap citra militer dalam krisis yang menarik kutukan dunia, dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan mengenai transisi demokrasi di bawah Peraih Hadiah Nobel Aung San Suu Kyi.

Min Aung Hlaing yang menyebut Rohingya dengan "Bengali" mengatakan, kolonialis Inggris bertanggung jawab atas masalah itu.

"Orang-orang Bengali tidak dibawa ke negeri ini oleh Myanmar, tapi oleh kaum kolonialis," kata dia kepada Marciel.

"Mereka bukan pribumi," tambahnya.

Serangan terkordinasi oleh pemberontak Rohingya ke 30 pos keamanan pada 25 Agustus, memicu balasan brutal militer.

Kantor HAM PBB mengatakan, --seperti dilansir Reuters--, berdasarkan 65 wawancara dengan orang-orang Rohingya yang tiba di Bangladesh, operasi tak berperikemanusiaan oleh militer itu sudah berlangsung sebelum peristiwa 25 Agustus, yang mencakup pembunuhan, penyiksaan dan perkosaan anak-anak. (reuters/ant/tat)


  
  
Berita Terkait: