Jumat, 15 Desember 2017 | 17:14 WIB
Korupsi
2 Terdakwa Suap WTP Kemendes Dituntut 2 Tahun Penjara
Rabu, 11 Oktober 2017 | 20:41 WIB
-

Skalanews - Dua terdakwa kasus dugaan suap audit opini wajar tanpa pengecualian (WTP) laporan keuangan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dituntut dua tahun penjara.

Tuntutan tersebut sebagaimana yang dibacakan Jaksa KPK pada persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (11/10).

Keduanya adalah Irjen Kemendes PDTT, Sugito dan Kepala Bagian Tata Usaha dan Keuangan Inspektorat Kemendes, Jarot Budi Prabowo.

Selain itu, kedua terdakwa juga dituntut masing-masing membayar denda. Untuk Sugito dituntut denda Rp250 juta subsider 6 bulan kurungan, sementara Jarot dituntut membayar denda Rp200 juta subsider 6 bulan kurungan.

"Menyatakan terdakwa Sugito dan Jarot Budi Prabowo terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut," kata jaksa KPK.

Jaksa menyakini kedua terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 5 ayat 1 UU Nomor 20 Tahun 2002 tentang Tipikor Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP sebagaimana dakwaan alternatif pertama.

Kemudian, untuk hal yang memberatkan, Jaksa menilai, kedua tidak mendukung program pemerintah dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dari kolusi, korupsi dan nepotisme.

Sementara, hal yang meringankan, para terdakwa mengaku dan berterus terang dipersidangan dan menyesali perbuatannya.

Seperti diketahui, keduanya didakwa menyuap Rochmadi Saptogiri selaku Auditor Utama Keuangan Negara III Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dan Ali Sadli, selaku Kepala Sub Auditorat III Auditorat Keuangan Negara.

Uang suap sendiri senilai Rp240 juta agar Rochmadi menentukan opini WTP terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Kemendes tahun anggaran 2016.

Selain itu, suap tersebut diduga untuk menutupi temuan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Kemendes pada 2015 dan Semester I 2016, sebesar Rp 550 miliar. (Bisma Rizal/bus)