Selasa, 24 Oktober 2017 | 14:25 WIB
Korupsi
Polri Tangkap Buronan Kasus Korupsi di RS Embung Fatimah Batam
Jumat, 13 Oktober 2017 | 16:52 WIB
ilustrasi -

Skalanews - Penyidik Direktorat Tindak Pidana Korupsi Badan Reserse Kriminal Polri melakukan penangkapan terhadap Fransisca Ida Sofia. Dia merupakan tersangka dalam kasus dugaan Korupsi Lelang Pengadaan Alat Kedokteran, Kesehatan dan KB di Rumah Sakit Umum Daerah Embung Fatimah Kota Batam TA 2011.

"Kamis tanggal 12 Oktober 2017, Penyidik Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri telah melakukan penangkapan dan dilanjutkan dengan penahanan terhadap seorang tersangka atas nama Fransisca Ida Sofia Prayitno sebagai pelaksana pekerjaan," kata Direktur Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri, Brigjen Pol Akhmad Wiyagus melalui siaran persnya, Jakarta, Jumat (13/10)

Tersangka ditangkap di tempat persembunyiannya di sebuah rumah kontrakan yang terletak di Jalan Selat Sunda Raya Blok E 11/12, Kel. Duren Sawit, Kec. Duren Sawit, Jakarta Timur pada pukul 21.35 WIB.

"Setelah kurang lebih satu tahun melarikan diri pada tanggal 19 Oktober 2016 sesuai dengan Surat Daftar Pencarian Orang Nomor : DPO/2/X/2016/Tipidkor tanggal 19 Oktober 2016 dan untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut dibawa ke kantor Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri," paparnya.

Tersangka kemudian ditahan selama 20 hari ke depan terhitung sejak tanggal 13 Oktober s/d November 2017, pada Rutan Bareskrim Polri di Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman Jakarta Selatan.

"Perkara ini merupakan pengembangan dari perkara Tindak Pidana Korupsi dengan terpidana atasnama drg. Fadila Ratna Dumila Mallarangan M. Kes yang telah divonis oleh PN. Tipikor Kepri selama 3 tahun 6 bulan dan saat ini tengah menjalani masa hukuman pada Rutan Batam Kepri," urainya.

Adapun keterlibatan tersangka Fransisca dalam kasus ini yakni meminjam PT Masmo Masjaya, PT Sangga Cipta Perwita dan PT Trigels Indonesia untuk diikutsertakan dalam pengadaan alat kedokteran, kesehatan dan KB di RSUD Embung Fatimah Kota Batam TA. 2011 dengan cara membuat dokumen administrasi pengadaan perusahaan yang dipinjamnya.

Akibat dari perbuatan tersangka tersebut Negara mengalami kerugian sebesar kurang lebih sebesar Rp 5.604.815.696,-.

Adapun pengadaan barang yang di korupsi yakni Peralatan Patologi Anatomi; Peralatan Obgyn; Peralatan Fisiotherapy; Peralatan UGD; Peralatan Kamar Operasi; Peralatan Anak; Peralatan Laundry.

Tersangka dijerat Pasal 2 ayat (1) dan atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

"Tindak lanjut melengkapi mindik dan menyelesaikan berkas perkara serta menyerahkan Tahap 1 ke Kejaksaan serta mendalami terhadap pihak-pihak lain yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana," tutupnya. (Frida Astuti/bus)