Jumat, 28 Juli 2017 | 21:57 WIB
Menteri BUMN Minta PTPN Libatkan Pemprov Jatim Bahas PG
Kamis, 12 Januari 2017 | 00:03 WIB
Rini Soemarno bersama Soekarwo (kiri) - [ist]

Skalanews - Surat protes Pemprov Jatim dan petani tebu atas penutupan 9 (semula 6 pabrik lalu bertambah 3) pabrik gula di Jatim oleh pemerintah pusat akhirnya membuahkan hasil.

Menteri BUMN Rini Soemarno meminta PT Perkebunan Nusantara X (PTPN) dan PTPN XI yang membawahi 9 pabrik gula tersebut, melakukan koordinasi dengan Pemprov Jatim.

"Sekarang sedang diselesaikan verifikasinya dan rencananya selesai 15 Januari 2017. Nanti PTPN yang akan melaporkan ke Gubernur dan saya yakin gubernur akan mendukung kebijakan saya ini, amin," ungkapnya Rini Soemarno saat di Surabaya, Rabu (11/1).

Menurut Rini, pemerintah bukan berniat menutup Pabrik Gula (PG) tapi akan melakukan pemetaan secara total karena PG yang dibangun di Pulau Jawa itu pada permulaan tahun 1900-an, seperti tahun 1890, 1905, dan 1910 itu usianya sudah diatas 100 tahun sehingga tingkat efisiensinya sangat rendah.

Selain persoalan efisiensi, lanjut Rini, kualitas pabrik gula juga tidak bisa mengikuti kualitas internasional, karena itu pihaknya ingin lakukan pemetaan titik-titik petani tebu itu ada dimana, dan lahannya dimana saja?.

"Kalau pabriknya masih cukup baik bisa direvitalisasi sehingga bisa lebih efisien dan kualitas produksinya menjadi lebih baik. Atau yang masih bisa memproduksi etanol dan listrik itu kita teruskan," tegasnya.

Sebaliknya, sambung Rini, kalau pabrik gula yang tidak baik, maka tetap akan kita jalankan kebijakan yang sekarang, sambil membangun pabrik gula baru dengan kapasitas yang lebih besar selama lahan tebunya cukup, baru nanti kalau pabrik baru jadi, memikirkan soal yang lainnya.

"Jadi tujuan kita itu betul-betul tidak menginginkan pengangguran sebab BUMN memiliki tanggung jawab memikirkan bagaimana masyarakat bersama pemerintah daerah supaya bisa sejahtera. Tentu menghindari pengangguran kan?" tegas Rini.

Ia juga membantah penutupan PG yang tak efisien itu untuk memuluskan operasional PG swasta yang mulai banyak dibangun diberbagai daerah. Sebab pendirian pabrik gula itu tidak bisa lepas dari lahan tebu. Apalagi biaya pendirian satu pabrik gula kisaran mencapai Rp1-Rp2 triliun.

"Kalau kita bangun tapi akhirnya tidak ada tebunya nanti bagaimana? Kalau petani tidak mau tanam tebu karena lebih memilih tanaman yang lain, bagaimana? Bisa mati investasi kita," dalih Rini.

Seperti diberitakan, Kementerian BUMN melalui PTPN X dan PTPN XI pada tahun 2017 ini berencana menutup 9 pabrik gula yang ada di Jatim karena alasan sudah tidak efisien lagi.

Kesembilan PG yang akan ditutup itu antara lain, PG Toelangan dan PG Watoetoelis (Sidoarjo), PG Meritjan (Kediri), PG Poerwodadie, PG Redjosarie, PG Kanigoro (Madiun), PG Olean, PG Wringinanom dan PG Pandjie (Situbondo). (wahyu/bus)