Senin, 20 November 2017 | 18:55 WIB
Harga Cabai Rawit di Seruyan Tembus Rp200 Ribu/Kg
Kamis, 12 Januari 2017 | 13:01 WIB
Ilustrasi - [ist]

Skalanews - Harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, mengalami kenaikan hingga Rp200.000 per Kg.

"Biasanya harga normal cabai rawit berkisar antara Rp50.000-Rp80.000. Tapi sekarang naik, hingga Rp200 ribu/kg," kata salah satu pedagang sayur di pasar tradisional Pembuang Hulu, Kecamatan Hanau, Mirah (40) di Pembuang Hulu, Rabu (11/1).

Ia mengatakan, melonjaknya harga cabai rawit sudah berlangsung selama beberapa hari akibat langkanya pasokan cabai yang berasal dari kabupaten tetangga, --yakni Kabupaten Kotawaringin Barat.

"Karena harganya yang mahal, maka yang membeli pun tidak banyak. Dan cabai kita jual eceran dengan harga Rp20.000/ons," katanya.

Berbeda dengan di Pembuang Hulu, di Pasar Tradisional Sayur dan Ikan (SAIK) Kuala Pembuang, berbagai kebutuhan pokok termasuk cabai rawit yang dipasok dari Pulau Jawa naik, dan bertahan Rp150.000/kg.

"Karena masih minimnya pasokan, maka harga cabai masih mahal, yakni Rp150.000/kg," kata salah satu pedagang Pasar SAIK Kuala Pembuang, Erni (42).

Ia menambahkan, harga cabai keriting yang sebelumnya Rp40.000-Rp50.000/kg, juga telah mengalami kenaikan selama dua minggu terakhir menjadi Rp120.000/kg.

Harga beberapa komoditas lain seperti bawang merah, juga mengalami kenaikan dari Rp28.000 per kilogram menjadi Rp35.000 per kilogram. Kemudian tomat dari harga Rp12.000 per kilogram, menjadi Rp20.000 per kilogram. Dan telur ayam dari Rp43.000 per sap, naik menjadi Rp45.000 per sap.

Harga berbagai komoditas di pasar tradisional Kuala Pembuang sangat fluktuatif, karena secara umum pasokan berbagai komoditas masih bergantung dari Pulau Jawa.

"Ketika pasokan dari Pulau Jawa minim dan harganya juga sudah tinggi, maka terpaksa harga jual di pasar pun jadi tinggi," katanya.

Ia berharap, kenaikan harga ini tidak berlangsung lama dan segera kembali normal. Karena apabila kenaikan harga berlangsung lama, maka akan menyebabkan penurunan daya beli konsumen.

"Kalau penurunan harga nanti terjadi secara dratis terjadi, maka pedagang akan rugi," katanya. (ant/tat)