Rabu, 22 November 2017 | 14:09 WIB
Pemerintah Aceh Diminta Serius Manfaatkan Alokasi Saham KEK Arun
Senin, 17 Juli 2017 | 04:17 WIB
ilustrasi -

Skalanews - Pemerintah Aceh harus serius memanfaatkan alokasi saham sebesar 46 persen di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, kata pembina Inkubator Bisnis Universitas Malikussaleh Ibrahim Qomarius di Lhokseumawe, Minggu (16/7).

"Jangan sampai di KEK Arun Lhokseumawe terulang lagi kasus seperti pada pemanfaatan saham di Perta Arun Gas, dimana sampai saat ini Pemerintah Aceh belum melakukan penyetoran modal. Oleh karena di KEK Arun Lhokseumawe, pemerintah Aceh harus memainkan perannya dengan ikut serta dalam penyertaan modal," ujar Ibrahim.

Ia mengatakan penyertaan modal di KEK Arun Lhokseumawe oleh pemerintah Aceh dapat berbentuk bantuan pemerintah pusat, alokasi khusus dari APBA/APBK atau bermitra dengan investor.

"Memang perlu diingat, bahwa dengan penyertaan modal yang bersumber dari alokasi khusus di APBA, tentu saja akan mengurangi pos-pos anggaran lainnya. Akan tetapi karena ini proyek strategis nasional yang tentu saja memiliki efek ganda terhadap perkembangan ekonomi daerah, pemerintah Aceh perlu mempertimbangkannya dan mengalokasikan anggaran dari pos yang tidak banyak manfaatnya untuk rakyat," katanya.

Menurut Ibrahim, penyertaan modal oleh Pemerintah Aceh di KEK Arun Lhokseumawe memiliki beberapa manfaat antara lain terciptanya lapangan kerja baru di Aceh yang diperkirakan mencapai antara 30.000-40.000 orang, baik tenaga skill maupun non-skill.

"Hal ini akan menurunkan tingkat pengangguran dan angka kemiskinan, sehingga meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh," katanya.

Kedua adalah meningkatkan potensi devisa ekspor dari produk migas, petrokimia, dan agroindustri dari Aceh. Karena Aceh akan menjadi salah satu pemain utama dalam industri migas, petrokimia, agroindustri, pelabuhan dan logistik di Indonesia.

Ketiga adalah akan adanya kemitraan antata BUMN dan BUMD Aceh untuk menggali potensi sumber daya alam dalam rangka pengembangan industri migas, petrokimia, infrastruktur pelabuhan, dan agroindustri.

Selain itu adalah kelima, efek ganda dalam bidang ekonomi dan bisnis di Aceh, sehingga akan memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan perekonomian Aceh di masa yang akan datang, pungkas Ibrahim. (bus/antara)