Jumat, 20 Oktober 2017 | 15:54 WIB
Petani Garam Pamekasan Tak Khawatir Garam Impor
Jumat, 11 Agustus 2017 | 21:50 WIB
Petani garam do Galis Pemekasan - [anang adriyanto/skalanews]

Skalanews - Garam impor asal Australia mulai berdatangan ke Indonesia. Volumenya lebih dari 40 ribu ton. Namun fakta itu tak membuat petani garam rakyat di Kabupaten Pamekasan khawatir. Sebaliknya petani garam Madura justru berharap pemerintah menjaga fluktuasi harga agar tak merugikan petani.

Tokoh petani garam rakyat Pamekasan, Amiril yang ditemui di lahan pengolahan garam miliknya di Desa Padelegan, Kecamatan Pademawu, menjelaskan, garam impor itu merupakan garam untuk bahan baku industri.

"Sedangkan garam olahan petani di Madura merupakan garam konsumsi. Itu sebabnya kami tak khawatir kran impor dibuka pemerintah," tandas Amiril di Pamekasan, Jumat (11/8).

Hal senada dilontarkan Mulyadi, petani garam di Desa Polagan, Kecamatan Galis. Menurutnya, pemerintah tidak boleh membiarkan nasib petani garam rakyat semakin terpuruk.

"Pemerintah berkewajiban menjaga fluktuasi harga garam rakat agar tidak anjlok. Harga garam konsumsi saat ini sangat menguntungkan petani. Jadi tolonglah pemerintah tetap menjaga agar nilainya tidak jatuh," pinta Mulyadi.

Menurut Mulyadi, harga garam yang wajar itu berkisaran Rp 1.000 - 1.500 per kilonya. Jika kurang dari kisaran angka tersebut, kata Mulyadi, maka petani merugi.

"Jika saat ini ada trend harga menurun, realita itu bukan disebabkan masuknya garam impor. Melainkan, saat ini petani garam rakyat sedang panen raya. Musim kemarau Juli-Agustus memancarkan terik matahari sepanjang hari dan mendongkrak kuantitas produksi," jelasnya.

Sementara Amiril, meminta pemerintah agar menutup kran impor garam manakala petani lokal telah melakukan panen serentak se Indonesia.

"Masuknya garam impor saya kira wajar saja, karena untuk menutupi kekurangan garam secara nasional. Tapi pemerintah hendaknya berhati-hati menggelontorkan kran impor. Jangan sampai petani lokal merugi," serunya.

Di Kabupaten Pamekasan, tercatat ada 1.200 hektar lahan garam rakyat. Jika berasumsi setiap hektare mampu berproduksi 150 ton, maka Pamekasan bisa menyumbangkan lebih dari 150 ribu ton untuk stok garam nasional.(Anang Adriyanto/bus)