Selasa, 24 Oktober 2017 | 14:41 WIB
Petani Garam Sumenep Raup Untung di Cuaca Mendung
Jumat, 13 Oktober 2017 | 15:22 WIB
Petani Garam - [anang adriyanto/skalanews]

Skalanews - Petani garam rakyat di Kabupaten Sumenep, Madura, kembali mereguk keuntungan. Pemicunya adalah mendung sepekan ini memayungi ratusan petak pengolahan garam. Meski mendung tak berbuah hujan, namun tengkulak khawatir terjadi gagal panen.

Kegagalan panen dari petak pengolah garam didominasi oleh cuaca tak mendukung. Jika terjadi hujan diatas petak pengolah garam kristal, maka dipastikan gagal panen. Buliran garam kristal yang mengering di hamparan petak produksi bakal kembali mencair.

Syamsuri, salah seorang petani garam rakyat di Desa Karanganyar, Kecamatan Kalianget, Sumenep, menjelaskan gumpalan awan mendung sepekan ini terlihat memayungi hamparan petak produksi garam.

"Khawatir gagal panen, para tengkulak akhirnya setuju dengan patokan harga yang disodorokan petani. Kami para petani minta harga Rp2 juta per ton dan tengkulak setuju," tutur Syamsuri, Jumat (13/10).

Menurut Syamsuri, harga garam kristal milik petani garam rakyat sebelum terjadi mendung dipatok Rp1,5 juta per ton. Patokan harga itu berlangsung sejak pekan pertama September lalu. Namun harga bisa terdongkrak karena ada gumpalan mendung diatas petak garam.

Syamsuri mengatakan, cuaca yang kurang mendukung menyebabkan masa produksi garam lebih lama. Biasanya apabila cuaca menguntungkan, hanya dalam waktu satu minggu, garam sudah bisa diproduksi. Namun karena sering mendung, maka membutuhkan waktu 12-15 hari.

"Tentu saja petani garam senang dengan kenaikan harga di tingkat petani. Dengan patokan harga seperti sekarang ini, kami para petani garam di Sumenep harap tidak ada lagi garam impor masuk Indoneisa. Sebab, produksi garam musim tahun ini sudah bisa menjawab kebutuhan nasional," tandasnya.

Data di Kantor Dinas Perikanan Sumenep, mencatat hasil produksi garam hingga pekan pertama bulan Oktober 2017 sebesar 93.890 ton. Sementara target produksi garam pada tahun ini sebanyak 125 ribu ton. (Anang Adriyanto/bus)