Selasa, 22 Agustus 2017 | 06:37 WIB
Survei LSI
Pasca-Pilkada DKI, Polarisasi Bikin Masyarakat Tidak Nyaman
Sabtu, 20 Mei 2017 | 03:31 WIB
Ardian Sopa - [ist]

Skalanews - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis hasil survei soal kekhawatiran mayoritas publik terhadap polarisasi yang masih terjadi pasca-Pilkada DKI Jakarta. Perhelatan politik daerah yang menyita perhatian mayoritas warga Indonesia tersebut melahirkan sejumlah sentimen dan rasa tidak nyaman di antara warga.

Peneliti LSI, Ardian Sopa mengungkapkan dalam survei yang dilakukan pihaknya, sebanyak 72,5 persen mayoritas publik Indonesia tidak nyaman dengan berlanjutnya polarisasi masyarakat yang pro dan kontra dengan Gubernur DKI Jakarta non-aktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), setelah Pilkada DKI.

"Polarisasi tersebut dinilai sudah melampaui persoalan Pilkada DKI itu sendiri. Polarisasi itu malah berpotensi melonggarkan kebersamaan sebagai satu bangsa," kata Ardian saat merilis survei LSI dengan tema 'Mempertegas dan Memperbaharui Demokrasi Pancasila?' di Kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (19/5).

Selain itu, tambah dia, sebanyak 75 persen rakyat menginginkan pemerintah beserta penentu kecenderungan masyarakat, menegaskan kembali komitmen menjadikan demokrasi Pancasila sebagai perekat. Namun demokrasi Pancasila yang dimaksud bukan pola kenegaraan era Orde Baru, dan bukan sistem sebelum amandemen UUD 1945.

"Berlarutnya kontroversi Pilkada DKI, hingga lahirnya gerakan lilin di beberapa kota, lalu terjadi pro-kontra, juga membuat kekhawatiran di kalangan masyarakat. Hasil survei LSI menyebutkan, sebesar 72,5 persen masyarakat merasa tidak nyaman," ujarnya.

Menurutnya, mayoritas berpandangan polarisasi itu tidak lagi sehat. Hanya sebesar 8,7 persen saja yang menyatakan polarisasi yang ada pada saat ini tidak mengkhawatirkan. Sisanya, sebanyak 18,8 persen memilih untuk tidak menjawab.

"Mayoritas publik ingin pemerintah dan penentu kecenderungan untuk lebih membuat upaya ekstra dalam merekatkan masyarakat. Akan tetapi, sistem kenegaraan apakah yang akan dipilih untuk bisa merekatkan kembali masyarakat Indonesia?" tukas Ardian.

Untuk diketahui, survei yang dilakukan LSI tersebut dibuat khusus untuk membaca situasi nasional setelah Pilkada DKI. Sebanyak 1.200 responden dipilih berdasarkan multi stage random sampling. Wawancara tatap muka dengan responden dilakukan serentak di 34 propinsi dari tanggal 5 sampai 10 Mei 2017.

Survei LSI ini dibiayai sendiri sebagai bagian layanan publik LSI Denny JA. Margin of error survei ini dikatakan plus minus 2,9 persen. Survei ini pun katanya dilengkapi dengan riset kualitatif seperti fokus group discussion (FGD), media analisis, dan depth interview terhadap narasumber. (Risman Afrianda/bus)