Senin, 24 Juli 2017 | 13:36 WIB
JPPI Kecam Keras Aksi Kekerasan di Akpol Semarang
Jumat, 19 Mei 2017 | 08:48 WIB
-

Skalanews - Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mengecam keras aksi kekerasan hingga meninggalnya Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang Tingkat II, Brigadir Dua Taruna (Brigdatar) Mohammad Adam.

Diduga korban tewas akibat dipukuli oleh para seniornya karena korban telah melakukan kesalahan disiplin pada Kamis (18/05) kemarin.

"Kekerasan anak di sekolah di berbagai daerah di Indonesia sudah memasuki tahap memprihatinkan," ujar Koordinator Advokasi JPPI Nailul Faruq dalam keterangan tertulis ke skalanews, Jakarta, Jumat (19/5)

Nailul menambahkan berdasar hasil penelitian JPPI dalam indeks layanan pendidikan di Indonesia pada tahun 2016, yang disebut Right to Education Index (RTEI). Menyebutkan bahwa ada tiga Problem Utama Pendidikan Indonesia. Yakni, kualitas guru rendah, sekolah tidak ramah anak, dan diskriminasi kelompok marjinal.

Untuk menyikapi aksi kekerasan di Akpol Semarang itu Nailul mengungkapkan bahwa aksi kekerasan masih dianggap sebagai bagian dari cara pembelajaran, misalnya untuk pendisiplinan. "Ini salah. Semestinya pendidikan harus ditanam melalui penyadaran, bukan ancaman," tegasnya

Ia juga mengatakan lengahnya pengawasan dari pemerintah dan dewan pendidikan. Relasi senior dan junior masih menjadi tradisi di sekolah yang diwarisi turun temurun. Sanksi atas pelaku pelanggaran kekerasan di sekolah masih belum mengenai semua pihak yang terlibat, tapi hanya pelaku lapangan.

Dan juga lemahnya peran komite sekolah dan partisipasi masyarakat dalam pengawasan dan pelaporan atas kasus-kasus pendidikan. Pelaku juga harus diusut tuntas dan dihukum berat sesuai dengan pasal yang berlaku, sampai ada efek jera.

Selain itu, Nailul mengatakan perlu adanya penyadaran yang kuat dari pihak terkait. Penyadaran bisa dilakukan dengan pembiasaan dan teladan. "Pendidikan kita miskin teladan. Misalnya guru melarang siswa membuat gaduh di kelas dengan nada teriak," katanya.

Kemudian, menjelaskan filosofi dan nilai-nilai dari prilaku. Misalnya, bukan soal datang tepat waktu atau terlambat, tapi siswa harus diberikan pemahaman makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam disiplin waktu.

Lalu, jelas Nailul kalau memberlakukan punishment, juga harus dilakukan dengan cara yang mendidik dan menimbulkan kesadaran, bukan malah membuat sakit hati dan sakit fisik. (deddibayu/bus)