Jumat, 15 Desember 2017 | 17:17 WIB
GAPKI: Indonesia Perlu Perkuat Diplomasi Sektor Sawit
Kamis, 12 Oktober 2017 | 01:24 WIB
Joko Supriyono - [ist]

Skalanews - Indonesia perlu memperkuat diplomasi dan komunikasi sektor kelapa sawit di tingkat global. Agar industri kelapa sawit tidak seperti tudingan yang selama ini gencar dilakukan banyak negara Eropa dan Amerika.

Meskipun berbagai riset ilmiah dan data sudah banyak menepis terhadap kampanye negatif tentang sawit, namun upaya yang terstruktur, sistematis dan masif yang menghambat komoditas strategis Indonesia ini masih terus berlangsung.

"Kita perlu perkuat diplomasi dan komunikasi di level global. Dunia internasional harus lebih fair menilai kelapa sawit," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono di hadapan sejumlah  diplomat senior peserta program Sesparlu (Senior Diplomat Course) batch ke-57 di Pudiklat Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta, Rabu (11/10).

Dalam acara tersebut, selain sejumlah diplomat Indonesia, hadir juga diplomat senior negara sahabat.

Joko memaparkan, salah satu kampanye negatif adalah terkait isu kehutanan seperti deforestasi, keanekaragaman hayati, maupun tudingan industri sawit yang merambah lahan gambut hingga menyebabkan kebakaran hutan.

Tudingan bahwa industri sawit penyebab kebakaran hutan itu, menurut Joko, tidak benar sama sekali.

Lalu, ia menunjukkan dokumentasi dan berita bahwa kebakaran hutan juga terjadi di negara lain, baik di Amerika maupun Eropa. Kebakaran-kebakaran di Amerika dan Eropa itu, menurutnya, menggambarkan bahwa negara selama ini yang sering mengatasnamakan kepentingan dunia tentang pentingnya menjaga lingkungan, ternyata mengalami kebakaran hutan juga.

"Saya memastikan bahwa sektor kelapa sawit Indonesia telah memenuhi prinsip-prinsip keberlanjutan," ujar Joko.

Bahkan, kata Joko, sejak tahun 2014 pemerintah mewajibkan seluruh perkebunan kelapa sawit di Indonesia bersertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). "Dan pemerintah saat ini sedang memperkuat ISPO agar semakin diterima di dunia internasional."

Sementara itu, Dinna Wisnu, associate professor Universitas Atmajaya, yang juga menjadi fasilitator penyelenggaraan acara ini sengaja mengundang pelaku industri sawit untuk berbagi informasi di hadapan para diplomat yang tengah mengikuti program Sesparlu.

"Andalan Indonesia kan sektor migas dan non migas. Untuk non migas yang paling tepat adalah industri kelapa sawit," ujarnya.

Dinna menjelaskan bahwa para diplomat perlu diberi wawasan tentang bagaimana komoditas strategis Indonesia ini menghadapi berbagai tekanan global.

Menurutnya, para diplomat tampak antusias dan mulai lebih terbuka wawasannya mengenai kelapa sawit. (deddi bayu/bus)