Lebih separuh dari ongkos penyelenggaraan Sea Games XXVI berasal dari para sponsor tapi mengapa perusahaan rokok ditolak berpartisipasi?

Sea Games dan Sponsor Rokok

Senin , 28 Nov 2011 15:55 WIB
  
  
A+ | Reset | A-
Sea Games XXVI sudah berakhir tapi sedikit orang yang memperhatikan, ongkos penyelenggaraannya, sebagian besar berasal dari para sponsor. Ketua Panitia Harian Sea Games, Rahmat Gobel menyebutkan, ada sembilan sponsor utama yang ikut mendukung pekan olahraga negara-negara Asia Tenggara di Palembang itu. Nilainya sumbangannya: dua kali melampaui dana yang disediakan oleh pemerintah, atau ditaksir mencapai Rp6 triliun.  

Tidak semua berwujud uang, memang. Milo misalnya menyediakan minuman susu cokelat. Unilever Indonesia menyumbangkan peralatan olahraga, selain bantuan uang. Panasonic dan Samsung memasang televisi di berbagai tempat pertandingan. Indosat membagi-bagikan ribuan kartu perdana gratis berikut pulsanya, dan menyediakan mobil medis untuk kegiatan kirab obor Sea Games di berbagai kota.

Selain memasang logo Sea Games XXVI di 30 pesawatnya, Garuda Indonesia membantu menerbangkan para atlet dari hampir semua negara peserta berikut kargonya. Sebagian gratis, sebagian membayar dengan rabat. Bank Mandiri selain menyumbang uang, juga menyediakan pusat jajanan Mandiri di Gelora Bung Karno, pembuatan iklan dan lagu resmi yang akan dipakai selama SEA Games. Totalnya Rp 30 miliar.

Meski begitu, sumbangan dari para sponsor itu tetaplah angka yang besar bahkan terbesar dalam sejarah Sea Games. Sebagian dari sumbangan itu malah sudah dicairkan ketika panitia masih menyiapkan pelaksanaan Sea Games, karena anggaran dari pemerintah belum turun. Seandainya tidak ada sumbangan dari sponsor itu, tentu tidak bisa dibayangkan, panitia akan bisa mengongkosi persiapan pelaksanaan Sea Games.
 
Satu hal yang menarik dari para sponsor Sea Games kali ini adalah absennya perusahaan-perusahaan rokok. Panitia jauh-jauh hari sudah menolak perusahaan-perusahaan rokok untuk terlibat karena alasan, rokok bertolak belakang dengan olahraga. Penolakan ini didukung oleh banyak pihak, dan tentu saja yang terutama dan paling nyaring dari Komnas Pengendalian Tembakau. Arifin Panigoro, Pembina Komnas Pengendalian Tembakau menyebutkan, tanpa rokok berarti menjamin dan melindungi para atlet, dan penonton dari bahaya merokok.

Orang-orang boleh berdebat soal pendapat Arifin tentang sponsor perusahaan rokok itu, tapi Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Mallarangeng tidak berani menarik garis hitam-putih seperti Bos Besar Medco itu. Kendati memandang rokok sebagai barang yang berbahaya bagi kesehatan dan idealnya tidak menjadi sponsor bagi kegiatan olahraga. Andi menilai rokok telah lama mendukung perkembangan cabang olahraga tertentu seperti bulu tangkis, sepak bola, dan balap, jauh sebelum perusahaan-perusahaan lain ikut-ikutan sibuk membiayai olahraga, juga perusahaan milik Arifin.

Dulu sekali misalnya, British American Tobacco ikut membiayai PBSI untuk membuat Pusat Latihan dan Pendidikan di Jawa Timur dan Jawa Barat. Sejumlah uang juga disumbangkan setiap bulan. Perusahaan rokok itu juga selama lima tahun menjadi sponsor tunggal kejuaraan sepak bola Marah Halim, karena tidak ada perusahaan lain yang bersedia menjadi sponsor utama. Sementara dana PSSI dan pemerintah terbatas, Dji Sam Soe pun bersedia menggelar kompetisi Copa Dji Sam Soe. Djarum membiayai Liga Super Indonesia, selain masih terus menghasilkan atlet-atlet bulu tangkis lewat PB Djarum Kudus.
 
Benar, sebagian dokter dan ahli kesehatan kemudian berpendapat, asap rokok berbahaya bagi kesehatan manusia. Namun andaikan anggapan itu pun benar, maka panitia olahraga, mestinya menolak pula sponsor dari perusahaan-perusahaan yang memproduksi makanan dan minuman yang juga mengandung zat-zat berbahaya bagi kesehatan. Produk makanan yang mengandung MSG, misalnya. Atau produk minuman beralkohol, atau yang mengandung kafein dan zat perangsang dan sebagainya.

Persoalannya kini, telanjur ada kampanye yang menjurus ke arah diskriminasi terhadap perusahaan-perusahaan rokok dengan melarang atau menolak mereka untuk ikut menjadi sponsor kegiatan olahraga. Seolah-olah rokok adalah biang keladi dari semua penyebab penyakit. Atau, kalau perusahaan rokok ikut menjadi sponsor olahraga, kemudian akan menyebabkan para atlet dan orang-orang yang menyaksikan para atlet itu berlaga, beramai-ramai membeli rokok lalu merokok. Sebagian orang lantas berseru, iklan rokok yang tertera di acara olahraga, hanya akan membesarkan pabrik rokok, dan karena itu hanya akan membuat kaya para pemilik perusahaan rokok.

Benar-tidaknya pendapat itu tentu masih bisa diperdebatkan, tapi yang semestinya juga dipahami, semua perusahaan apa pun orientasinya hanyalah mengejar keuntungan. Itu sebabnya, di dunia bisnis kemudian dikenal prinsip “tidak ada makan siang gratis,” dan prinsip itu niscaya juga dipegang oleh perusahaan-perusahaan yang ikut mensponsori kegiatan olahraga. Contoh kecil tentang bagaimana prinsip “tidak ada makan siang gratis” ini diterapkan oleh perusahaan yang mensponsori olahraga, terjadi sekitar 27 tahun lalu.

Tersebutlah, Buick yang memutuskan ikut mendanai dan meramaikan Olimpiade Los Angeles. Lalu perusahaan otomotif itu dengan segera mengenalkan produk barunya: sedan putih bergaris emas dengan logo Olimpiade di penutup mesinnya. Itu tentu sebuah sedan yang mahal, begitu juga biaya yang harus dikeluarkan untuk panitia Olimpiade, tapi eksekutif Buick berpendapat, Olimpiade musim panas 1984 itu tetaplah sebuah peluang bagi perusahaannya. Sebuah pasar yang diharapkan bisa mendongkrak penjualan sedan Buick yang pada waktu, pamornya mulai digerogoti oleh sedan-sedan buatan Jepang.

Dengan kata lain, memang tidak ada yang benar-benar gratis, dan semua perusahaan yang berpartisipasi membiayai kegiatan olahraga, niscaya juga mengharapkan ada imbal-balik yang menguntungkan. Karena itu bohong besar kalau ada perusahaan yang mendanai kegiatan olahraga, semata bertujuan memajukan dunia olahraga tanpa motif kepentingan bisnis di balik keikutsertaannya. Paling tidak, mereka akan berharap, merek dan produknya terpatri di benak publik yang menyaksikan pertandingan atau kompetisi olahraga.

Maka benar kata Andi, di masa mendatang perlu dibuat aturan yang lebih jelas soal sponsor olahraga. Harus tidak ada lagi perlakuan diskriminatif yang menyebabkan satu perusahaan diuntungkan karena boleh atau diberi kesempatan mensponsori kegiatan olahraga, sementara perusahaan lainnya dirugikan karena ditolak berpartisipasi. Bagaimana pun olahraga tetaplah olahraga, dan bisnis tetaplah bisnis.

Dua hal itu seharusnya berkelindan untuk memajukan dunia olahraga dan menyejahterakan para atlet, tapi seharusnya pula dipisah sama sekali dengan politik kepentingan, termasuk politik kepentingan dari kampanye anti-rokok yang dibiayai oleh Bloomberg Initiative, misalnya. Kecuali yayasan yang didirikan Michael Bloomberg [Walikota New York] itu, kemudian juga berinisiatif, untuk selalu dan terus-menerus mensponsori kegiatan olahraga termasuk untuk Sea Games XXVI yang mendapat sumbangan sponsor Rp6 triliun itu. Bukan seperti yang selalu dilakukan sejauh ini: berkampanye menolak iklan rokok sembari diam-diam mengumpulkan simpati untuk kepentingan politik dan bisnis terselubung.

Rusdi Mathari wartawan tinggal di Jakarta
Komentar Anda
Komentar facebook