Suliadi, sopir Jokowi bercerita, pada suatu sore Jokowi tiba-tiba muncul di rumahnya dan membangunkan dirinya yang sedang tidur.

Jokowi bukan Joko yang itu

Senin , 02 Apr 2012 11:11 WIB
  
  
A+ | Reset | A-
Judul: Jokowi: Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker
Penulis: Yon Thayrun
Halaman: v + 223
Cetakan: Maret 2012
Penerbit: Noura Books
 
Ini cerita Herwin Tri Nugroho Adi, ajudan pertama Jokowi, walikota Solo. Suatu hari, Herwin menemani Jokowi ke Jakarta untuk urusan dinas dan kebagian tugas memesan kamar sebuah hotel. Lalu saat hendak memesan kamar ke resepsionis penerima tamu hotel, Jokowi berpesan kepada Herwin agar hanya memesan satu kamar. Herwin kaget: satu kamar?
 
Dalam pikiran Herwin, dia bakalan tidak mendapat kamar untuk menginap, atau kalaupun menginap, dia akan kebagian tidur di sofa. Akan tetapi tebakan Herwin meleset karena Jokowi malah meminta Herwin tidur sekamar dengannya. Bukan di sofa kamar hotel, melainkan tidur satu tempat tidur dengan Jokowi. “Kali pertama tidur satu bed dengan bapak, saya tidak bisa tidur hingga pagi. Saya takut. Tatarannya, saya kan sebagai ajudan,” kata Herwin. 
 
Mengetahui kebiasaan Jokowi seperti itu, Herwin dan ajudan Jokowi penggantinya, sejak saat itu selalu memesan satu kamar hotel kalau kebetulan mendampingi atasannya itu berdinas ke luar kota. Tak ada lagi rasa canggung sebab Jokowi juga bersikap biasa-biasa saja tidur sekamar dengan mereka. Untuk urusan makanan pun, Jokowi tidak mau makan di hotel melainkan memilih makan di warung kaki lima bersama ajudannya.
 
Suliadi, sopir Jokowi bercerita, pada suatu sore Jokowi tiba-tiba muncul di rumahnya dan membangunkan dirinya yang sedang tidur. Hari itu, Suliadi memang ketiduran dan lupa; harus mengantar Jokowi ke Semarang. Berkali-kali Jokowi meneleponnya, tapi Suliadi yang telanjur terlelap tak menjawab telepon itu hingga Jokowi datang ke rumahnya dan membangunkannya. “Saya langsung cuci muka tidak mandi, dan langsung menyetir ke Semarang...” kata Suliadi.
 
Benar, Jokowi adalah salah satu pejabat pemerintah yang banyak diberitakan sering “menabrak” aturan protokoler dan nyaris sepenuhnya tidak berjarak dengan siapa pun, termasuk dengan sopir dan ajudannya berikut keluarganya. 

Bila sedang tidak ke luar kota, dia bersama anak dan istrinya di Solo sering mengajak sopir dan ajudan, makan bersama di warung kaki lima satu meja. “Saya pernah pindah menyendiri ke meja lain, malah dimarahi. ‘Ke sini saja, gabung. Tak usah menyendiri’,” kata Suliadi, mengenang kejadian makan bersama Jokowi.
 
Bagi sebagian pejabat –untuk tidak menyebut sebagian besar— sikap Jokowi yang tidak taat  protokoler itu mungkin akan dianggap aneh, sok, atau menyalahi “etika” pejabat. Namun bagi Jokowi, sikapnya itu punya alasannya tersendiri. Untuk cerita satu kamar hotel dengan ajudannya itu, misalnya.
 
Jokowi menjelaskan, memesan satu kamar hotel saat berdinas ke luar kota dimaksudkan untuk efisiensi anggaran dan memaksimalkan koordinasi. Dia sadar betul, sebagian besar aktivitasnya sebagai pejabat pemerintah selalu berurusan dengan ajudan. “Kalau [tidur] bersama ajudan, ada teman untuk diajak ngobrol. Koordinasi jadi enak. Ya kalau ada double bed, kami tidur terpisah. Kalau [yang ada] hanya single bed, ya [tidur] berdampingan,” kata Jokowi.
 
Lamb of God
Cerita-cerita tentang sikap dan perilaku humanis Jokowi sebagai pejabat pemerintah semacam itulah, yang mendominasi di buku ini. Di dalamnya termasuk cerita tentang keberhasilan Jokowi bersama wakilnya F.X. Hadi Rudyatmo menyediakan fasilitas berobat gratis bagi semua orang miskin di Solo, pembuatan KTP dalam waktu satu jam, pengurusan izin usaha dalam waktu sepekan, tender proyek yang terbuka, dan perlindungan untuk cagar budaya dan etnis minoritas; yang sebetulnya sudah banyak diberitakan di media massa.
 
Kenyataannya, penampilan dan sikap Jokowi, memang jauh dari kesan pejabat yang wah. Mobil dinasnya juga tak berubah: sedan Toyota Camry, eks kendaraan dinas Slamet Suryanti, walikota Solo yang digantikan Jokowi di tahun 2002.
 
Devid Agus Yunanto, ajudan Jokowi yang sekarang, menuturkan, di bagasi mobil itulah, Jokowi selalu mengisi dengan  tumpukan buku tulis dan berkantong-kantong beras kualitas terbaik masing-masing berisi beras 3 kilogram. Tidak ada yang tahu kepada siapa saja buku tulis dan beras itu diberikan oleh Jokowi, kecuali ajudan dan sopir Jokowi. Kata Devid, tumpukan buku tulis dan beras itu, sering habis dalam sehari, kadang habis dalam tiga hari. “Tidak mesti, dan kalau sudah habis pasti diisi lagi,” katanya.
 
Lalu ketika hadir di acara peluncuran buku ini di Jakarta Selatan 2 hari lalu, Jokowi juga tampil santai dengan celana jins, sepatu kets, dan tentu saja kemeja kotak-kotak bercorak merah-hitam. Tidak ada pengawalan, tidak ada protokoler. Dia pun datang ke tempat acara di Kemang, hanya bertiga dengan ajudan sopirnya dan menggunakan mobil sewaan.
 
Anda mungkin akan menyebut Jokowi nyentrik tapi satu hal yang jelas, Jokowi adalah penggemar musik rock, hingga sekarang. Sewaktu menjadi siswa SMA di tahun 70-an, dia bahkan memanjangkan rambutnya seperti musisi-musisi rock itu. Para guru dan kepala sekolahnya saat itu kebingungan menegur Jokowi dengan rambut gondrongnya, karena nyatanya dia adalah siswa yang paling berprestasi. Koleksi kaset musik rokcnya pun cukup lengkap. Mulai dari yang klasik hingga slow-rock.
 
Ibu Jokowi, Sujiatmi bercerita, semasa Jokowi SMA itu, di dinding kamar Jokowi penuh dengan poster grup musik rock. Tak jarang, di kamarnya, Jokowi menyanyi sembari berteriak. “Musik rock itu adalah kebebasan. Liriknya tegas, membuat semangat dan mampu mendobrak perubahan,” kata Jokowi.
 
Karena kegemarannya pada musik rock itu, Jokowi tak berhenti mengikuti perkembangan musik rock. Kalau mendapat izin cuti, dalam waktu dekat dia pun akan menonton konser Judas Priest dan Lamb of God di Singapura. Rencana besarnya: Jokowi akan mengundang grup musik rock Lamb of God untuk tampil di Solo di acara Rock in Solo. “Saya ingin bertemu dengan manajemen Lamb of God,” katanya.
 
Salah kirim surat
Cerita lain yang diungkap di buku ini adalah asal-usul panggilan “Jokowi.” Bernama asli Joko Widodo, Jokowi sebelumnya hanya dikenal dengan nama Joko. Nama atau panggilan “Jokowi” mulai digunakan oleh Jokowi sekitar 1998. Itu berawal ketika usaha mebelnya di Solo semakin mentereng berkat diekspor ke beberapa negara termasuk ke sejumlah negara di Eropa.
 
Ceritanya, salah satu pelanggan Jokowi di Prancis, saat itu sering mengirimkan faksimili atau surat untuk memesan produk mebel. Namun celakanya, surat atau faksimili yang dikirimkan ke Jokowi, sering nyasar ke Joko yang lain yang juga pengusaha mebel. Sebaliknya, surat untuk Joko yang lain juga kerap diterima oleh Jokowi.
 
Suatu waktu misalnya, surat untuk Jokowi malah diterima pengusaha mebel di Jepara yang juga bernama Joko yang kebetulan adalah juga langganan importir dari Prancis itu. Di waktu yang lain, faksimili yang seharusnya diterima oleh pengusaha mebel bernama Joko di Surabaya, malah nyasar ke Jokowi di Solo. Begitu seterusnya.
 
Karena seringnya salah kirim, pembeli dari Prancis itu lalu berinisiatif untuk membedakan Joko yang di Solo dengan Joko lainnya, dengan sebutan “Jokowi.” Sejak saat itulah, nama “Jokowi” melekat dan selalu digunakan oleh Jokowi hingga sekarang. Termasuk untuk tulisan nama [badge] yang menempel di baju dinasnya sebagai pejabat pemerintah, dan di kartu namanya.
 
Ditolak
Yon Thayrun penulis buku ini membantah, menulis buku ini untuk kepentingan menyambut Pilkada Gubernur DKI 2012, di mana Jokowi akan menjadi salah satu kandidatnya. Ide buku ini, kata dia, berasal dari obrolan dengan teman-temannya. Hasil obrolan itu lalu ditawarkan ke penerbit Noura Books [anak perusahan dari penerbit Mizan] dan diterima. Penerbit itu memberi waktu 6 minggu sejak awal Februari silam kepada Yon untuk mewujudkan buku ini. “Risetnya seminggu, wawancara dengan Jokowi 4 hari, dengan orang-orang di sekitarnya 2 minggu, dan menulis 3 minggu,” kata Yon.
 
Awalnya kata Yon, Jokowi menolak karena merasa bukan orang penting dan biasa saja. Baru setelah Yon meyakinkan bahwa Jokowi adalah orang penting yang kisah hidup dan sepak terjangnya sebagai pejabat bisa menjadi inspirasi orang banyak, Jokowi mengizinkan Yon menulis buku ini. “Buku ini tidak sepersen pun dibiayai oleh Jokowi atau pengusaha. Buku ini hanya dibiayai oleh penerbit,” kata Yon.
 
Seorang wartawan yang dekat dengan Jokowi bercerita, Yon termasuk beruntung bisa dipercaya oleh Jokowi menulis buku. Dulu, kata dia pernah ada penulis dan wartawan terkenal dari Jakarta yang menawarkan diri ke Jokowi untuk menulis tentang Jokowi. Akan tetapi tawaran itu ditolak oleh Jokowi, dan jadilah buku Yon ini sebagai buku pertama yang mengisahkan apa dan siapa Jokowi; yang tercatat dalam sejarah sebagai satu-satunya kepala daerah di Indonesia yang diberi kesempatan berpidato di acara Gouverning Council Forum 2008 PBB di New York, karena keberhasilannya merelokasi pedagang kaki lima tanpa kekerasan.


Rusdi Mathari wartawan tinggal di Jakarta
Komentar facebook