"Alasan kami menerbitkan ini adalah untuk menyebarkan kesadaran dengan memiliki data yang realistis."

Aktifis HAM Merilis Laporan Penjara Korea Utara

Kamis , 10 Mei 2012 16:05 WIB
  
  
A+ | Reset | A-
Skalanews - Sebuah kelompok HAM yang didanai oleh pemerintahan Korea Selatan merilis sebuah laporan yang sangat terperinci mengenai pelangaran yang terjadi pada penjara - penjara di Korea Utara.

Laporan setebal 381 halaman, yang di kumpulkan dari hasil wawancara dengan 200 orang yang selamat dari penjara tersebut, informasi meliputi dimana dan kapan terjadinya. 

Ini merupakan langkah yang signifikan bagi pemerintah Korea Selatan yang tetap diam tentang pelanggaran hak asasi manusia dari tetangganya.

Beberapa aktivis hak asasi manusia telah meminta Seoul melakukan banyak hal untuk mengakhiri pelanggaran yang ada di Pyong Yang, karena konstitusi Korea Selatan menyatakan bahwa warga Korea Utara berhak menjadi warga negara Korea Selatan, dengan legal standing dalam sistem pengadilan.

Para aktivis mengancam pemerintahan Korea Utara untuk bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut."Bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan mereka," kata Suzanne Scholte, ketua Koalisi pembebasan Korea Utara, yang bekerja untuk mempromosikan hak asasi manusia di Korea Utara. Seperti yang dikutip dari Washington Post, Kamis (10/5).

"Alasan kami menerbitkan ini," kata Lee Yong-ken, kepala tim HAM untuk Korea Utara Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Korea, yang disusun laporan itu, "adalah untuk menyebarkan kesadaran dengan memiliki data yang realistis."

Selama beberapa dekade penguasa Kim menggunakan Kamp-Kamp penjara politik untuk meredam lawan-lawan politiknya, kelompok HAM Independen menulis laporan ada sekitar 150.000 - 200.00 orang di dalam penjara tersebut.

Setelah melakukan wawancara selama setahun, komisi HAM menerbitkan pengakuan mantan narapidana penjara korea utara tersebut. 

Para mantan napi yang selamat menjelaskan pengalaman mereka sendiri dan hal-hal yang mereka saksikan. Satu bercerita melihat seorang penjaga perempuan yang merasa gembira ketika menyiksa tahanan dengan kayu. 

Yang lain juga menceritakan bagaimana seorang remaja usia 19 tahun harus dieksekusi dengan diledakan otaknya sampai wajah itu sangat tidak di kenali lagi. Banyak juga yang melakukan bunuh diri lantaran mereka frustasi atas apa yang mereka terima.(Khaled Muhamad)
Komentar Anda
Komentar facebook