"Sebagai ilustrasi, rendahnya kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia terletak dalam indeks "gini" yang cukup tinggi, yaitu di angka 0,41 persen,"

Pertumbuhan Ekonomi Tidak Jamin Keadilan dan Pemerataan

Senin , 15 Okt 2012 23:28 WIB
  
  
A+ | Reset | A-
Skalanews - Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Irman Gusman menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata di atas enam persen belum menjamin terwujudnya keadilan dan pemerataan di semua wilayah.

"Sebagai ilustrasi, rendahnya kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia terletak dalam indeks "gini" yang cukup tinggi, yaitu di angka 0,41 persen,"kata Irman Gusman dalam seminar nasional di Jakarta, Senin (15/10).

Menurutnya angka ini meningkat dari 0,3 persen pada 2010 yang berarti bahwa pertumbuhan ekonomi justeru membuat jurang antara kaya dan miskin semakin besar.

Dia mengungkapkan, secara kewilayahan, terjadi kesenjangan dimana saat ini, 80 persen industri nasional berlokasi di Pulau Jawa. Sementara, sebagian besar lahan penghasil energi listrik dan energi panas bagi industri tersebut didatangkan dari Pulau Jawa.

"Jakarta itu peredaran uang sebanyak 65 persen Bodetabek di angka 25 persen sedangkan diluar tapi masih di pulau jawa sebesar 10 persen yang dibagi oleh propinsi," ujar dia.

Artinya, kata dia, ada kecenderungan menyimpangnya kebijakan pertumbuhan dari spirit konstitusi akibat pengaruh kuat dari serbuan ideologi neoliberal yang tidak bisa dihindari dimana peranan negara dalam neoliberalisme dibatasi hanya sebagai pengatur dan penjaga bekerjanya mekanisme pasar.

Sehingga negara dengan kekayaan alam yang besar tapi tidak memiliki kemandirian ekonomi, terjajah secara ideologi, dan melebarnya kesenjangan, ketimpangan, dan ketidakadilan antara yang kaya dan miskin, antara sektor modern dan tradisional, serta antara kota dan desa.

"Banyak negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam, tetapi tidak merasakan dampak kesejahteraan yang luas bagi masyarakat,"ujarnya.

Da mengatakan konteks dalam negara yang sesuai dengan "spirit" UUD 45 mempunyai pengaruh kuat. Sistim ideologi tersebut sebagai pengatur mekanisme pasar serta kesenjangan antar sektor wilayah sehingga mewujudkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkeadilan dan berkelanjutan. [ant/pay]
Komentar Anda
Komentar facebook