Padahal "Garuda" sudah terbang tinggi dengan 5 kali kemenangan. Tapi, saat hinggap di Bukit Jalil "Garuda" langsung diterkam "Macan Malaya."

Hinggap di Bukit Jalil, Garuda Diterkam Macan

Rabu , 15 Jun 2011 19:11 WIB
  
  
A+ | Reset | A-
Dahsyat, dari enam kali laga yang dilakoni Firman Utina dan kawan-kawan di ajang Piala AFF 2010,  Indonesia menang 5 kali dan 1 kali kalah. Namun, kemenangan 5 kali berturut-turut bagi skuad Merah Putih, semuanya bermain di kandang sendiri, yaitu di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Di babak penyisihan, Indonesia mempecundangi Malaysia 5-1, mencukur Laos 6-0, dan menekuk Thailand 2-1. Kemudian, di babak semifinal yang memakai sistem home and away, pada leg pertama, seharusnya timnas Indonesia bermain tandang ke Filipina. Berhubung Stadion Panaad di Bacolod City, Filipina, tidak memenuhi standar FIFA, maka digelarlah leg pertama tersebut di SUGBK. Dan Indonesia menang 1-0 di kandangnya sendiri.

Pada leg kedua, Indonesia yang mendapat jatah bermain kandang di SUGBK, menang kembali atas Filipina dengan skor sama seperti di leg pertama, yaitu 1-0. Lagi-lagi Indonesia menang di kandang sendiri

Dengan 3 kali menang di babak penyisihan, dan 2 kali menang di semifinal, membuat  kiprah Firman Utama dan kawan-kawan mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Tiap hari, semua pemberitaan media cetak maupun elektronik selalu menyanjungnya. Bahkan di jejaring sosial seperti di facebook dan twitter, nama Irfan Bachdim selalu menjadi topik utama. Jelas ini sebuah euforia.
 
Minggu, 26 Desember 2010, di Stadion Nasional Bukit Jalil, disaksikan 70 ribu pendukunya, Malaysia mampu mencukur Indonesia dengan skor 3-0. Sekitar 15 ribu suporter Indonesia yang ikut memadati Bukit Jalil hanya bisa gigit jari. Insiden sinar laser yang  mengenai wajah Markus Harison, Cristian Gonzalez, dan Firman Utina, berusaha dijadikan kambing hitam.

Betul, insiden sinar laser yang terjadi di Bukit Jalil telah menciderai fair play di ajang piala AFF 2010. Tapi, sekali lagi, bukan hal itu yang menyebabkan kekalahan timnas Indonesia dari Malaysia. Toh, nantinya juga FIFA akan memberikan sangsi kepada Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM). Teror seperti laser itu adalah kejadian biasa di setiap partai final sepak bola. Hanya mental juara yang dapat mengalahkan teror seperti itu.

Beberapa hari sebelum partai final leg pertama digelar, pelatih Malaysia,  K. Rajagobal dalam wawancaranya dengan Koran Tempo, berpendapat bahwa, Indonesia Jago Kandang. "Dalam kejuaraan AFF kali ini, mereka (Indonesia) juga selalu menang. Cuma, semua pertandingan itu selalu di Jakarta. Pembuktiannya sekarang, ketika mereka bermain di luar Jakarta, apakah mereka juga akan menang seperti halnya bermain di hadapan pendukungnya?" kata Rajagobal, pelatih Malaysia kelahiran Selangor, 10 Juli 1956.

Jika pelatih Rajagobal berkoar "Indonesia Jago Kandang". Dan apa yang dikatakan Rajagobal itu sudah terbukti, Indonesia kalah 3-0, ketika bermain di luar kandang. Lain lagi apa yang dikatakan pelatih Timnas Indonesia, Alfred Riedl.  Pelatih asal Austria itu beralasan, bahwa kekalahan Timnas Indonesia disebabkan oleh hal non teknis.

Menurut Riedl, jelang final leg pertama di Bukit Jalil, Malaysia, banyak agenda tidak penting dari PSSI yang mengganggu pemain. Contohnya seperti, berkunjung ke rumah Aburizal Bakrie dan berkunjug ke sebuah pesantren di Jakarta.

Selain itu, banyak juga permintaan wawancara kepada pemain, dan itu menggangggu konsentrasi. Riedl juga kecewa dengan adanya rombongan wartawan yang satu pesawat dengan rombongan timnas Indonesia.

Ternyata, Riedl yang terkenal sangat disiplin terhadap para pemainnya, tak bisa menolak saat keberhasilan sepak bolanya dijadikan alat politis petinggi di negeri ini. Seandainya pada saat itu, Riedl dan pasukannya mampu menolak undangan makan siang di rumah keluarga Aburizal Bakrie dan undangan ke sebuah pesantren di Jakarta, serta tidak ada pemberitaan yang lebay tentang keberhasilan timnas  Indonesia saat melaju ke final, tentunya Firman Utina dkk tidak akan kelelahan dan pasti akan bermain lepas saat melawan Malaysia.

Masih ada peluang buat Indonesia untuk  menjadi  juara  piala AFF 2010. Sebab, masih ada waktu 90 menit lagi di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Rabu, 29 Desember 2010, asalkan bisa menang 4-0 di leg kedua tersebut. "Inilah sepak bola" kata Riedl. Ini kandang kita. (Mohamad Hidayat / Pemerhati Sepak Bola Tanah Air)

Komentar facebook