Pedagang ambil untung terlalu banyak

Jagung Naik, Harga Pakan Ternak Terkerek

Harga jagung lokal yang lebih tinggi dibanding jagung impor dikeluhkan produsen pakan ternak. Mereka menuding harga itu dipermainkan oleh pedagang perantara.
Jumat , 08 Apr 2011 15:16 WIB
  
  
A+ | Reset | A-
Harga jagung lokal yang lebih tinggi dibanding jagung impor dikeluhkan produsen pakan ternak. Mereka menuding harga itu dipermainkan oleh pedagang perantara.

Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Pakan Ternak (GPMT) Sudirman saat ini harga jagung lokal sampai ke tangan produsen Rp 3.700 per kg, padahal harga jagung impor hanya Rp 3.200 itupun setelah dikenai bea masuk sebesar 5 persen.

Sudirman menyebut tingginya selisih harga tersebut dikarenakan pedagang perantara terlalu menikmati untung besar sementara petani jagung sebaliknya.

“Harga Rp 3.700 per kg nggak wajar, kita tahu biaya modal petani cuma Rp 1.200. Kalau petani yang menikmati nggak apa-apa, tapi petani tak menikmati, yang menikmati pedagang perantara,” kata Sudirman.

Menurut Sudirman, saat ini kebutuhan jagung untuk industri pakan ternak mencapai mencapai 5,5 juta ton jagung per tahun. Sebanyak 3,5 juta ton dicukupi oleh produksi jagung lokal, sementara sisanya berasal dari jagung impor.

Sudirman juga menyebut kenaikan harga jagung juga memicu kenaikan harga pakan ternak. Produsen pakan ternak dalam negeri menetapkan kenaikan pakan ternak sebesar Rp 500-600 per kg sejak Januari 2011.

“Kenaikan cukup tinggi, sejak awal tahun sudah naik Rp 500-600 per kg dari sekitar Rp 4.500 per kg menjadi Rp 5.000-5.100 per kg,”

Dia menjelaskan porsi jagung dalam pakan ternak komposisinya signifikan dalam biaya produksi. Setiap produsen pakan ternak rata-rata menghabiskan biaya bahan baku hingga 85-90%, di mana separuhnya adalah jagung (50% bahan baku).

“Selain jagung juga ada bungkil kedelai porsinya 20% ini juga sudah naik, juga ada bungkil daging naik juga harganya, kita masih impor,” katanya.

Sementara itu, menurut Ketua Harian Dewan Jagung Indonesia Anton Supit produksi jagung di tanah air masih terkendala pada kontinuitas produksi yang mempengaruhi suplai dan harga.

Puncak produksi yang hanya terjadi pada periode Januari hingga Maret sementara disisi lain penanganan pasca panen jagung juga masih terkendala sistem pergudangan yang baik.

Menurut Anton, sebagai negara yang subur dan memiliki lahan pertanian luas, Indonesia bisa swasembada jagung bahkan mengekspor jagung.

Peluang ekspor jagung begitu tinggi, seperti Malaysia membutuhkan impor jagung  3 juta ton, Korea 7 juta ton, Jepang 16 juta ton, bahkan China 1,7 juta ton di tahun lalu.
“Kalau mau menjadi negara pengekspor jagung, tidak bisa mengandalkan sistem produksi sekarang, harus ada corn estate,” katanya

Komentar facebook