Panser Anoa buatan PT Pindad (Persero) ini dipilih karena sudah memenuhi standar PBB dan juga sudah teruji dalam operasi pengamanan di Libanon

Panser Anoa Mulai Rambah Brunei Darussalam

Selasa , 12 Jul 2011 19:53 WIB
  
  
A+ | Reset | A-
Jakarta – Setelah sukses memasok kendaraan lapis baja jenis Panser Anoa untuk Tentara Diraja Malaysia, kini PT Perusahaan Industri Angkatan Darat (Pindad) dalam waktu dekat pun akan mengekspor produk andalannya itu ke Brunei Darussalam.

Keyakinan itu ditegaskan Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin dalam seminar ‘Kesiapan Industri Baja Menghadapi Revitalisasi Industri Strategis’, yang diselenggarakan di Wisma Antara, Jakarta, Selasa (12/7) bahwa Pemerintah Brunei akan memilih kendaraan Panser dari Indonesia.

Karena, tambahnya dari hasil uji coba Panser pada beberapa waktu lalu produk dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu memiliki keunggulan dibandingkan dengan merek lain produk dari perusahaan Eropa.

Perlu diketahui, Panser 6X6 Anoa produk Pindad ini merupakan kendaraan tempur pengangkut personel serba guna dengan sistem penggerak roda simetris yang dirancang khusus untuk TNI AD, khususnya kavaleri. Panser ini dapat mengangkut 10 personel dengan tiga kru, satu komandan, dan satu "gunner" yang berada di atap. Panser ini juga dilengkapi dengan "mounting" senjata cal. 12,7 mm yang dapat berputar 360 derajat.

Sementara dari hasil uji coba Panser Anoa ini Pemerintah Brunei rencananya akan membangun satu batalyon pasukan yang akan menggunakan kendaraan serbaguna militer tersebut. Namun, Sjafrie mengakui belum tahu berapa banyak kebutuhan Panser untuk satu batalyon di negara tersebut. Karena kalau di Indonesia itu satu batalyon memerlukan sebanyak 54 unit Panser.      

"Yang pasti bahwa kendaraan ini sesuai dengan karakteristik yang dibutuhkan oleh angkatan darat Brunei,  hal itu yang menggembirakan kita," ujarnya beralasan.

Di samping itu, Sjafrie mengharapkan agar pemerintah memberikan keringanan bagi industri pertahanan nasional. Keringanan tersebut, baik berupa insentif fiskal atau keringanan bea masuk bahan baku untuk industri pertahanan. Langkah itu diharapkan bisa membuat harga alat utama sistem pertahanan (Alutsista) bisa lebih murah sehingga mampu bersaing di pasar luar negeri.

Memang, produk Pindad untuk jenis Panser Anoa ini telah diakui Tentara Diraja Malaysia. Pada akhir 2010 lalu, perusahaan plat merah ini menang tender untuk pengadaan sebanyak 32 unit Panser Anoa dari Pemerintah Malaysia. Lagipula, Panser buatan Pindad ini dipilih karena sudah memenuhi standar PBB dan sudah teruji dalam operasi pengamanan di Libanon

"Kualitas produknya lebih tinggi karena kita harus menguji dulu dengan kompetitor lain dan ini sudah kita buktikan bahwa pada saat di Malaysia kita bisa mengungguli kompetitor lain. Sekarang, kita di Brunei pun kita bisa mengungguli produk lainnya lagi. Ini yang kita perlukan," tandasnya  

Namun, saat ditanya nilai proyek pengadaan Panser Anoa untuk Brunei itu, Mantan Kapuspen TNI ini  masih enggan untuk membuka harga penjualan Panser Anoa per unit. Jika melihat pada harga pembelian panser oleh Kemenhan beberapa waktu lalu, diketahui bahwa harga satu unit Panser mencapai Rp9 miliar dan melonjak menjadi Rp13 miliar jika kendaraan tersebut dilengkapi dengan persenjataannya. (bus)
Komentar Anda
Komentar facebook