Rabu, 20 November 2019 | 04:09 WIB
Kenaikan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang disepakati Pemerintah dan DPR direspon negatif pelaku pasar.
Rupiah Melemah Lima Poin
Senin, 25 Juli 2011 | 13:33 WIB
-
Jakarta -  Setelah mengalami penguatan pada pekan kemarin, Senin (25/7) siang, nilai tukar rupaih terhadap dolar AS kembali melemah meski hanya lima poin.

Dalam perdagangan di pasar spot antar bank, rupiah turun menjadi Rp8.527 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya senilai Rp8.522.

"Sentimen domestik cenderung negatif merespon kenaikan subsidi bahan bakar minyak (BBM) dengan begitu rupiah cenderung melemah," ujar Pengamat pasar uang Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih.

Ia mengatakan, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah akhirnya menyetujui dana subsidi BBM naik dari Rp95,9 triliun untuk konsumsi sebesar 38,6 juta kiloliter menjadi Rp129,7 triliun untuk 40,5 juta kiloliter.

"Dengan kenaikan subsidi BBM ini, harga BBM bersubsidi dipastikan tidak naik pada 2011, kendati kenaikan nilai subsidi BBM tersebut lebih rendah dari rencana awal yaitu Rp244,6 triliun," katanya.

Ia mengatakan, kebijakan pemerintah terkait BBM bersubsidi ini dianggap lambat karena membiarkan ketidakpastian selama hampir tujuh bulan dan hanya bersifat sementara karena publik mengetahui keterbatasan anggaran pemerintah dalam membiayai subsidi.

Apalagi, pemanfaatan subsidi tidak tepat sasaran, menguntungkan pengguna kendaraan pribadi dan mendorong meningkatnya penyelundupan.

"Pelaku pasar akan cenderung negatif terhadap keputusan ini walaupun dalam jangka pendek dapat meminimalisir risiko inflasi," katanya.

Sementara, lanjut Lana, sentimen positif datang dari eksternal yang menyetujui menaikkan fasilitas stabilisasi keuangan (European Financial Stability Facility) menjadi 323 miliar euro, lebih rendah dari usulan awal sebesar 440 miliar euro.

"Fasilitas ini merupakan bagian dari dana talangan unit Eropa dan dana moneter internasional (IMF) sebelumnya dengan nilai total satu triliun euro," jelasnya. (zhank's/ant)