Kamis, 19 September 2019 | 17:42 WIB
Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarBank di Jakarta bergerak melemah 10 poin ke posisi Rp8.845 dibanding sebelumnya di posisi Rp8.855.
Kemarin Stagnan, Sekarang, Rupiah Malah Melempem
Selasa, 25 Oktober 2011 | 11:00 WIB
-
Skalanews- Pada Senin kemarin posisi rupiah stagnan alias tidak mengalami pergerakan. Namun, kali ini mengalami pergerakan. Pergerakan tersebut membikin rupiah melemah.

Artinya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah sekitar 10 poin walau masih dalam kisaran terbatas. Alasannya tidak lain dan tidak bukan, masih dipicu dari kondisi perekonomian global yang belum kondusif.

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarBank di Jakarta bergerak melemah 10 poin ke posisi Rp8.845 dibanding sebelumnya di posisi Rp8.855. Demikian dikatakan analis pasar uang Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih, di Jakarta.

Solusi mengenai krisis utang terutama di Yunani dan kemungkinan di Italia, menurut dia, membutuhkan dana stabilisasi 'European Financial Stability Fund' (EFSF) yang dapat memberikan sentimen negatif.

"Italia membutuhkan dana stabilisasi EFSF yang lebih besar yaitu lebih dari satu triliun euro, jauh diatas target semula sebesar 440 miliar euro," ungkap dia.

Namun, Lana mengatakan, usulan tersebut sepertinya akan cukup sulit tercapai. Karena masing-masing negara membutuhkan persetujuan parlemen. "Jerman sebagai penyumbang terbesar dari nilai itu juga masih membutuhkan persetujuan parlemen yang diharapkan bisa disetujui pada 26 Oktober 2011 minggu ini," kata dia.

Belum lagi, lanjut dia, sebelumnya parlemen Slovakia menolak usulan pemerintah untuk menaikkan sumbangan EFSF yang dinaikkan menjadi 440 miliar euro. Kendati demikian, usulan menaikkan EFSF ini disambut positif pasar. "Pasar AS dan Eropa ditutup naik, dan imbal hasil obligasi AS 10 tahun sudah naik menjadi 2,234 persen," ungkap dia.

Pasar AS dan Eropa yang berada di area positif pada perdagangan kemarin, tambah dia, bisa memberikan efek positif dan diperkirakan dapat membuat pasar Asia melanjutkan penguatan. "Kami perkirakan rupiah juga berpotensi menguat," ujar dia. [mad]