Sabtu, 16 November 2019 | 06:41 WIB
Banyak komitmen yang dilakukan sejak lama, kalau tidak ditindaklanjuti dengan baik dalam program aksi yang kongkrit dan jelas, membuat posisi Indonesia relatif lemah
Pemerintah Akan Kaji Ulang Perjanjian FTA
Senin, 12 September 2011 | 16:55 WIB
Menteri Keuangan Agus Martowardjojo [foto-ist] -
Jakarta - Menteri Keuangan Agus Martowardjojo menilai perjanjian Free Trade Agreement (FTA) yang tengah berjalan justru merugikan Indonesia. Karena itu perlu adanya pengkajian ulang dalam perjanjian bilateral maupun multilateral yang sudah terjalin antara Indonesia dengan negara-negara lain.

"Banyak komitmen yang dilakukan sejak lama, kalau tidak ditindaklanjuti dengan baik dalam program aksi yang kongkrit dan jelas, membuat posisi Indonesia relatif lemah," ujar Agus, di kantornya, Jalan Wahidin, Jakarta, akhir pekan kemarin.

Dia menjelaskan, perjanjian FTA yang saat ini dijalani oleh Indonesia antara lain, ASEAN FTA, ASEAN-China FTA, ASEAN-Korea FTA, ASEAN-India FTA, bilateral Indonesia-China, dan yang tengah diratifikasi ASEAN-New Zealand-Australia.

"Perjanjian itu tidak membuat Indonesia pada posisi yang terlalu sederhana. Jadi, saya ingin kita bisa melakukan kajian atas perjanjian FTA yg selama ini kita miliki," tegas dia.

Agus menambahkan, ke depan, pihaknya akan mempertimbangkan dan mengkaji mengenai perjanjian kerjasama Asean New Zealand Australia FTA. Hal ini dilakukan agar perjanjian ini tidak hanya sedikit memberi pengaruh kepada Indonesia.

"Oleh karena itu saya akan atur waktu minggu depan sebelum saya final tandatangan Asean New Zealand Australi FTA tadi. Saya ingin publik tahu, kalau seandainya kita punya kesimpulan dari hasil evaluasi itu adalah baik untuk ke depan," katanya.

Selain itu, lanjutnya, guna menjaga pertanggungjawaban publik maka akan dilakukan sesi pendiskusian dan memahami dampak dari FTA. "Itu kepada relatif dari Indonesia kepada dunia," tegasnya.

Pengkajian kembali perjanjian FTA ini, tidak lepas dari tak bersedianya produsen Blackberry, Research In Motion (RIM), membangun pabriknya di Indonesia. Padahal Blackberry merupakan salah satu perangkat komunikasi yang dikonsumsi layaknya kacang goreng oleh masyarakat Indonesia. Namun, RIM lebih memilih membangun pabrik di Malaysia. Pemerintah menegaskan, Indonesia tidak ingin hanya dijadikan pasar bagi produk-produk negara lain. (wah)
  
  
Berita Terkait: