Sabtu, 24 Agustus 2019 | 18:21 WIB
"Kondisi fundamental bank kita sangat baik. Modal bank kuat karena CAR masih tinggi. Begitu pula NPL sangat rendah dan likuiditas juga bagus. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan dari situasi yang berkembang saat ini."
BI Pastikan Perbankan Tahan Banting Hadapi Krisis
Sabtu, 24 September 2011 | 17:02 WIB
-
Bandung - Secara fundamental, perbankan nasional masih sangat kuat untuk menghadapi krisis ekonomi global yang berdampak ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

"Kondisi fundamental bank kita sangat baik. Modal bank kuat karena CAR masih tinggi. Begitu pula NPL sangat rendah dan likuiditas juga bagus. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan dari situasi yang berkembang saat ini," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Muliaman D Hadad di Bandung, Sabtu (24/9).

Kendati demikian, menurut dia, bukan berarti perbankan leha-leha, tanpa memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi sebagai dampak krisis di Eropa dan Amerika Serikat.

"Kita berharap gejolak bisa segera selesai dan bank bisa fokus ke intermediasi, dan bisa bantu mesin ekonomi nasional. Dengan indikator itu kita bisa punya daya tahan, meski kehati-hatiaan harus tetap ditunjukkan karena ini tidak boleh dianggap remeh" tuturnya.

Apalagi, lanjut Muliaman, eksposur utang perbankan terhadap aset-aset di Eropa dan Amerika Serikat juga kecil sekali, meski tidak berarti bisa anggap ringan, karena dampak langsung memang belum terlihat, tetapi dampak lanjutannya bisa saja.

Dijelaskan dia, mengenai target kredit perbankan sampai akhir tahun justru dinaikkan dalam perubahan rencana bisnis bank (RBB) tahun ini dari 23,5 persen menjadi 24,2 persen. "Ini gambaran bahwa industri perbankan melihat masih ada permintaan kredit yang besar," katanya.

Sedangkan komposisi kredit yang disalurkan, lanjut Muliaman, juga lebih banyak ke kredit produktif yaitu kredit investasi dan kredit modal kerja meski kredit konsumsi juga masih tumbuh tinggi.

"Secara kualitas kredit membaik, karena lebih ke sektor produktif yang akan memberikan nilai tambah pada perekonomian dengan menambah agregat suplai perekonomian," tuturnya.

Muliaman mengatakan, khusus untuk kredit konsumsi, pihaknya memberikan perhatian khusus pada kredit kendaraan bermotor yang belakangan tumbuh di atas 30 persen, sehingga dikhawatirkan bisa menimbulkan persoalan. [mad]