Kamis, 25 April 2019 | 01:31 WIB
Pinjaman luar negeri swasta di Sumatera Utara (Sumut) per Agustus 2011 misalnya, didominasi pinjaman dari sektor non finansial.
BI Ingatkan Swasta Hati-hati Soal Pinjaman Luar Negeri
Kamis, 27 Oktober 2011 | 22:07 WIB
-
Skalanews - Kehati-hatian dan aturan main terkait pinjaman luar negeri khususnya swasta perlu ditegaskan. Hal itu lebih dikarenakan untuk mengantisipasi dampak krisis ekonomi Amerika Serikat dan Eropa terhadap ekonomi dalam negeri.

Demikian disampaikan Deputi Kepala Bagian Penata Usaha dan Publikasi Utang Luar Negeri Direktorat Internasional BI, Miyono di Medan, Kamis (27/10).

Per-Agustus 2011, ia mengungkapkan, utang luar negeri Indonesia baik swasta dan pemerintah masih tercatat cukup tinggi. Karena itulah, perlu kehati-hatian, apalagi dengan adanya krisis ekonomi global.

Dengan melihat besarnya pinjaman dan krisis yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa, Miyono mengharapkan, Indonesia tidak terjebak dengan situasi yang semakin sulit.

Terkait hal tersebut, Pemerintah dan BI perlu melakukan berbagai langkah untuk menghindari kerugian yang lebih besar dari dampak pinjaman itu.

Ia mencontohkan, pinjaman luar negeri swasta di Sumatera Utara (Sumut) per Agustus 2011 misalnya, didominasi pinjaman dari sektor non finansial. "Jadi harus semakin hati-hati juga," katanya menegaskan.

Secara nasional, menurut Kepala Bagian Penata Usaha dan Publikasi Utang Luar Negeri Direktorat Internasional Bank Indonesia, Iwan Setiawan, pinjaman luar negeri swasta per Agustus 2011 sebesar 100,2 miliar dolar AS.

Mayoritas pinjaman luar negeri swasta dimiliki nonbank sebesar 82,3 miliar dolar AS, sedangkan bank hanya sebesar 17,9 miliar dolar AS. Utang luar negeri swasta itu, paling banyak diserap di lima sektor mulai keuangan, industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, listrik air dan gas bersih, serta pengangkutan dan komunikasi.

Dia mengakui, pinjaman luar negeri swasta Indonesia, paling besar berasal dari Asia dibandingkan dari Eropa. "Tetapi dampak krisis Eropa dan Amerika Serikat tetap saja akan berpengaruh," katanya. [mad]