Selasa, 23 April 2019 | 13:55 WIB
Pertimbangannya ini disebabkan ada kenaikan pada bahan bakar avtur dan ground handling. Diperkirakan ongkos penerbangan haji tahun ini sekitar US$ 2.076
Garuda Tidak Mau Turunkan Ongkos Haji
Selasa, 21 Juni 2011 | 02:13 WIB
foto.harianutama -
Jakarta – Maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia tidak bersedia menyanggupi permintaan Panitia Kerja Badan Penyelenggara Ibadah Haji (BPIH) untuk menurunkan ongkos penerbangaan pada musim haji 1432H/2011M.

Seperti yang dikatakan Direktur Operasional PT Garuda Indonesia, Ari Sapari ditemui usai rapat dengan Panja BPIH di Komisi VIII DPR RI di Gedung DPR RI di Jakarta pada Senin (20/6) menjelaskan dalam perhitungannya, kenaikan harga avtur sekitar 38 persen itu pada musim haji tahun ini bersamaan dengan musim dingin di beberapa negara.

"Sangat berat kalau rata-rata harganya di bawah US$ 2.000. Hal ini terkait dengan kenaikan harga bahan bakar minyak Avtur yang hingga mencapai sekitar 43 persen," tegasnya

Namun, tambahnya Ari enggan menyebut besaran harga tertinggi dan terendah yang diusulkan perusahaannya.

"Kami tidak mau terlalu banyak spekulasi dengan status perusahaan yang saat ini sudah go public ini menjadi perhatian seluruh pemegang saham." ungkapnya

Tetapi, diakui Ari pihaknya tetap sebagai perusahaan yang di bawah BUMN akan tetap mempertimbangkan penerbangan haji ini adalah salah satu proyek nasional. “Kami akan mengutamakan dan tidak mau juga memberatkan negara, tetapi dalam artian perusahaan negara juga tidak mau merugi. Jadi banyak konsiderasinya yang perlu dipertimbangkan," ujarnya.

Selain dari sisi harga bahan bakar avtur ini, tandasnya perusahaan dalam mengoperasikan pesawat juga tidak bisa rugi dan harus bisa memprediksikan beberapa hal yang di luar kemampuan, misalnya ground handling yang notabene harganya terus mengalami kenaikan.

"Kalau ground handling di Indonesia, mungkin kita bisa nego tetapi kalau ground handling di Arab Saudi,  beberapa perusahaan sudah merger sehingga memonopoli.  Dengan monopoli mereka 'naikin' angka sebesar 40 persen, maka kita tidak punya pilihan lain," jelasnya beralasan.

Ketika disinggung mengenai besaran harga seperti yang disampaikan Kementerian Agama yakni rata-rata US$ 2.076, Ari pun tidak membantahnya. "Ya sekitar itu, marginnya sekitar margin 2,4%. Kita tidak mengharapkan keuntungan yang tidak rugi saja sudah bagus," lanjutnya.

Sebagaimana diketahui, pada musim haji 2010 lalu, ongkos penerbangan haji sebesar US$ 1.754 per jamaah atau setara Rp16,7 juta. (ant/bus)