Selasa, 23 April 2019 | 13:07 WIB
Pengembangan MP3EI sendiri diperkirakan mampu menampung lebih dari delapan juta tenaga kerja baru di sektor industri.
MP3EI Ciptakan Delapan Juta Lapangan Kerja
Rabu, 26 Oktober 2011 | 15:26 WIB
Direktur Tenaga Kerja dan Kesempatan Kerja Bappenas Rahma Iryanti (foto-Bapenas) -
Skalanews - Program Masterplan Percepatan, Perluasan, dan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) diyakini mampu menciptakan lebih dari delapan juta lapangan kerja pada enam koridor ekonominya.

Direktur Tenaga Kerja dan Kesempatan Kerja Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rahma Iryanti mengatakan, jumlah lapangan kerja tersebut terbagi ke dalam sektor industri sebanyak 3,4 juta orang, dan infrastruktur sebanyak 4,9 juta orang.

"Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan progrowth, projob, propoor, dan proenvirontment yang diturunkan dalam MP3EI dan kebijakan penciptaan lapangan kerja. Kebijakan penciptaan lapangan kerja tersebut dilihat sesuai rencana investasi pada 22 program utama, rencana investasi program pendukung, kebutuhan sektor-sektor lainnya, dan penjabaran kebutuhan keterampilan, kompetensi tenaga kerja," jelas Iryanti, di Jakarta, Rabu (26/10).

Menurutnya, pengembangan MP3EI sendiri diperkirakan mampu menampung lebih dari delapan juta tenaga kerja baru di sektor industri. Dengan total investasi sebesar Rp2.225 triliun, akan ada sekitar 4.731.770 tenaga kerja baru. Jumlah tersebut tersebar di koridor Sumatera (579.973 orang), Jawa (340.938 orang), Kalimantan (1.742.550), Sulawesi (460.940 orang), Bali dan Nusa Tenggara (144.851 orang), serta Maluku dan Papua (1.462.518 orang).

Sementara untuk sektor infrastruktur direncanakan menyerap investasi Rp1.551,4 triliun dan menampung 4.975.400 tenaga kerja, yang tersebar di Sumatera (942.300 orang), Jawa (2.553.800 orang), Kalimantan (450.800), Sulawesi (220.000 orang), Bali dan Nusa Tenggara (155.600 orang), serta Kepulauan Maluku dan Papua (654.500 orang).

"Angka-angka ini belum mencerminkan berapa banyak tenaga kerja yang membutuhkan kompetensi spesifik karena butuh satu riset tersendiri. Analisis lebih tajam juga perlu dilakukan sejak awal perencanaan investasi," ujar Iryanti. [Wahyu Sabda Kuncahyo/Pay]