Senin, 14 Oktober 2019 | 03:18 WIB
Saat ini, Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) sedang melakukan analisis hukum terhdapa putusan Pengadilan Banding Guersnsey, Inggris
Kejagung Kaji Putusan Pengadilan Guernsey, Inggris
Jumat, 26 Agustus 2011 | 23:51 WIB
Wakil Jaksa Agung, Darmono [foto-istw] -
Jakarta – Kejaksaan Agung akan melakukan analisis hukum guna menentukan langkah atas kemenangan proses judicial review  Financial Intelligence Service (FIS) yang diajukan perunahaan milik Tommy Soeharto, Garnet Investment Ltd. di tingkat pengadilan banding Guernsey, distrik Inggris.

Seperti yang diungkapkan Wakil Jaksa Agung, Darmono di Jakarta pada Jumat (26/8) bahwa pihaknya, beserta jajaran terkait akan mengkaji putusan tersebut.

"Saat ini Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) sedang melakukan analisis hukum," tegasnya  

Sebelumnya, putusan Pengadilan Banding (setingkat upaya hukum kasasi) Guernsey, Inggris, pada Senin 22 Agutus 2011 lalu menolak permohonan yang diajukan Garnet Investment Ltd terkait pembekuan dana sebesar 36 juta euro atau atau setara Rp443 miliar.  

Seperti diketahui, awal mula perkara ini berawal dari gugatan Tommy Soeharto melalui perusahaan miliknya Garnet Investment Ltd. terhadap BNP Paribas di London, Inggris. Tommy melakukan gugatan gara-gara BNP Paribas menolak untuk mencairkan uangnya sebesar 36 juta Euro yang disimpan di bank tersebut. Pihak PNB Paribas mencurigai uang Tommy tersebut merupakan hasil tindak pidana.

Di tengah gugatan ini berproses, pemerintah Indonesia lantas mengajukan gugatan intervensi. Hal ini karena Tommy masih berperkara di Indonesia dalam beberapa kasus, serta dicurigai uang yang disimpan di Guernsey sengaja dilarikan dari Indonesia.

Pada 22 Januari 2007, Pengadilan Guernsey menerima pemerintah Indonesia sebagai penggugat intervensi dalam gugatan ini, serta mengabulkan permohonan pembekuan dana atas uang Tommy tersebut. Atas putusan tersebut, pihak Garnet lalu mengajukan banding dan sidang pun berlanjut kembali.

Selanjutnya, pada 29 Agustus 2008, Pengadilan Guernsey menjatuhkan putusan yang memenangkan pihak pemerintah Indonesia. Pada amar putusannya berbunyi bahwa pembekuan dana milik Garnet tetap berlaku sampai dengan 23 Mei 2009.

Atas putusan tersebut, Garnet kembali mengajukan banding. Dan selanjutnya pada 9 Januari 2009, pihak Pengadilan Guernsey menerbitkan putusan banding yang mengabulkan permohonan banding Garnet dan membatalkan freezing order (permintaan pembekuan dana) tersebut.

Terhadap hal tersebut, pemerintah Indonesia lantas mengajukan upaya kasasi ke Mahkamah Agung Inggris pada Juni 2009. Sayangnya, pihak MA Inggris justru menguatkan putusan banding tersebut dan dengan demikian freezing order atas uang Tommy tersebut berakhir.

Tetapi, Tommy tidak lantas bisa mencairkan uangnya yang ada di BNP Paribas tersebut. Hal ini karena ada gugatan lain dari pihak FIS, atau semacam PPATK-nya Indonesia, yang mengajukan permohonan pembekuan juga.

Namun, uang Tommy Soeharto sebesar Rp 90 miliar atau 10 juta dollar AS yang juga dibekukan oleh BNP Paribas cabang London sudah ditransfer pada Februari 2005, melalui rekening Departemen Hukum dan Hak Asasi. (bus)