Jumat, 15 November 2019 | 17:59 WIB
Ini perusahaan strategis, jadi kami pikir sangat sayang kalau harus pailit. Kami memberikan kesempatan bagi TPPI untuk menyelesaikan Master of Restructuring Agreement (MRA) dengan PT Pertamina
TPPI Batal Dipailitkan
Jumat, 9 September 2011 | 01:00 WIB
Kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama di Tuban, Jatim [foto-tppi] -
Jakarta – PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) bisa sdikit bernafas lega setelah Argo Capital BV dan Argo Global Holding BV mencabut gugatan pailitnya yang diajukan di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Disinyalir dicabutnya gugatan yang dilakukan kedua perusahaan yang berkedudukan hukum di negeri Belanda ini terkait restrukturisasi utang-utang TPPI yang sedang berlangsung.

Demikian yang disampaikan kuasa hukum Argo cs, Stefanus Haryanto kepada majelis hakim yang diketuai oleh Hakim Tjokorda Rae Suamba dalam persidangan di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada, Kamis (9/8/2011).

"Ini kan perusahaan strategis jadi kami pikir sangat sayang kalau harus pailit. Kami memberikan kesempatan bagi TPPI untuk menyelesaikan Master of Restructuring Agreement (MRA) dengan PT Pertamina," jelas Stefanus.

Dicabutnya gugatan pailit ini, diakui Stefanus setelah kedua belah pihak melakukan negosiasi dengan pihak TPPI karena dinilai TPPI masih dapat melunasi utangnya. Dengan adanya negosiasi tersebut akhirnya menghasilkan titik temu di mana TPPI meminta waktu untuk menyelesaikan utangnya.

"Negosiasi itu dilakukan langsung oleh klien kami. Jadi kami tidak mengetahui lebih detail mengenai hal itu," kilahnya

Di samping itu, TPPI juga ternyata telah melakukan negosiasi utang-utangnya dengan kreditur lainnya yakni Pertamina dan BP Migas yang dilakukan di Kementerian BUMN yang langsung Rabu (7/9/2011) kemarin.

Dengan dicabutnya perkara ini, maka pemeriksaan atas permohonan pailit yang diajukan Agro cs terhadap TPPI akan dihentikan. Secara resmi pencabutan atas perkara tersebut akan ditetapkan majelis hakim dalam persidangan yang akan digelar pada 15 September 2011 mendatang.

Seperti diketahui, dalam berkas pemohonan pailitnya menilai bahwa termohon (TPPI) memiliki utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Pihak pemohon, Argo Capital mengklaim mempunyai tagihan sebesar US$90 juta atau setara Rp 765 miliar (kurs US$1=Rp8.500) pada 2005 sedangkan Argo Global Holdings mengaku mempunyai tagihan sebesar US$7,5 juta atau setara Rp63,75 miliar. (bus)